muhasabah

dibawah langit

Assalamu'alaikum

Label

Jumat, 14 Januari 2011

Indahnya Memaafkan




Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalianmendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah saw mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad—orang yang selalu ia caci maki dan sumpah serapahi.

Rasulullah saw melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah saw praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya Aisyah, yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah. Ia bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?”

Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”

“Apakah Itu?” tanya Abu Bakar penasaran. Ia kaget juga karena merasa sudah mengetahui bagaimana kebiasaan Rasulullah semasa hidupnya.

“Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu ?”

Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa.”

“Bukan! Engkau bukan ora ng yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu dengan ketus “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku.”

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw.”

Seketika itu juga kaget pengemis itu. Ia pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar saat itu juga dan sejak hari itu menjadi Muslim.

~~~~~~~~~~~~~


Dari peristiwa itu, kita melihat betapa luhur dan mulianya Nabi dalam memberikan maaf justru kepada orang yang selama itu telah memusuhi, membenci, menghina dan mencaci Nabi. Tanpa menunjukkan sedikit pun tanda-tanda kebencian maupun rasa ingin membalas dendam. Sikap Rasulullah yang penyantun, penyayang dan pengampun menunjukkan bahwa beliau adalah manusia yang tidak menyukai permusuhan.

Tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang terlepas dari amarah. Yang terpenting adalah bagaimana sikap kita untuk menahan emosi ketika datang amarah. Tidak jarang kita mendengar berbagai macam kasus perceraian, pembunuhan, penipuan dan lain sebagainya hanya karena sebuah kemarahan. Oleh karena itu, amarah pada tingkat tertentu merupakan ukuran bagi kadar keimanan. Sekuat apapun ibadah seseorang, jikalau dia pemarah, maka tetap akan rusak imannya. Kerugian pemarah di antaranya adalah dalam pergaulan ia tidak disukai karena para pemarah itu wajahnya tampak tidak menyenangkan. Kata-katanya pun kotor dan keji. Bahkan mungkin seorang pemarah seringkali tidak sadar terhadap apa yang telah dikatakannya.

Amarah berasal dari hati. Jika dasar hati manusia adalah sombong dan merasa harga dirinya lebih baik dari orang lain, maka itulah yang membuat manusia susah memaafkan. Bukankah kita hidup bermasyarakat? Kita pasti membutuhkan orang lain, dan mungkin pada suatu saat nanti kita membutuhkan bantuan dari orang yang menyakiti kita.
Orang yang sulit memaafkan adalah orang yang hatinya keras layaknya batu. Sebaliknya, orang yang lapang dada akan senantiasa mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain, bahkan sebelum orang itu minta maaf, dia akan lebih dahulu memaafkan. Allah SWT yang Maha Pemurah dan Pemaaf saja selalu memaafkan kesalahan manusia, kenapa kita sebagai manusia yang hina ini selalu angkara murka dan susah untuk memaafkan?

Allah berfirman: “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telahmenganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:


… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43)

Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “…menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur’an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus.

Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah.

Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah

Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin menjelaskan bahwa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut qishash atasnya atau denda kepadanya. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti “menghapus” karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam taraf “masih menahan amarah”. Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain.

Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus menyertai seorang Muslim yang bertakwa. Allah swt berfirman: “…Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40). Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Memaafkan memiliki banyak manfaat, bukan hanya bagi orang lain namun juga bagi diri sendiri. Ada beberapa manfaat lain yang bisa didapatkan dari memaafkan yaitu:
  • Memaafkan baik untuk ketenangan pikiran. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang banyak memaafkan, porsi marahnya akan sedikit. Seorang pemaaf memiliki ketenangan jiwa yang tinggi dan tingkat depresi yang rendah.
  • Memaafkan baik untuk kesehatan tubuh. Orang yang banyak memaafkan memiliki kesehatan yang lebih baik daripada orang yang menyalahkan orang lain.
  • Memaafkan adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran yang tinggi. Saat anda memaafkan, sebenarnya anda melakukannya untuk diri anda sendiri, bukan orang lain.
  • Memaafkan bukan berarti menyetujui perilaku yang dilakukan orang yang berbuat kesalahan, tapi lebih kepada melihat kunci permasalahan yang terjadi terhadap diri anda. Intinya intropeksi diri.
  • Kesalahan yang terjadi tidak selamanya bernilai negatif. Dengan melihat permasalahan dari sudut yang positif akan tampak bahwa segala kesalahan bisa membawa hikmah yang positif untuk hidup.
  • Memaafkan adalah suatu pilihan. Memilih untuk terus membawa rasa kesal yang membebani atau ingin meringankan diri dari perasaan tersebut dengan memaafkan.
  • Memaafkan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan tekanan darah. Saat beban itu terpendam, otot akan menegang, kepala berdenyut, leher dan punggung serasa membeku, pencernaan terganggu, keringat berlebihan, jantung tak berfungsi baik, nafas tersengal-sengal. Setelah itu mungkin anda akan dihadapkan oleh penyakit kronis seperti kanker. Untuk itu, jangan pernah menutup pintu maaf anda kepada orang lain, termasuk diri anda sendiri. 
Mulailah biasakan memaafkan orang lain ataupun kepada diri sendiri. Tapi jangan hanya ucapan saja, niatkan diri dan rasakan sensasi dari memaafkan. Semoga kita bisa memaafkan diri sendiri ataupun orang yang ada disekitar kita.

Rabu, 12 Januari 2011

Mengetuk PintuMu



Tuhanku....
Disaat semua mata telah tidur
Hanya Engkaulah Yang Maha Hidup dan tidak pernah tidur
Disaat semua rumah telah menutup pintunya
Hanya pintuMu lah yang selalu terbuka
Buat para peminta

Ya Rabbi...
Hamba datang padaMu
Mengetuk pintuMu
Agar Engkau menatapku
Dengan belas kasihMu

Wahai Yang Maha Pengasih
Seruan orang yang kesulitan dalam kegelapan
Sudah lelap tidur semua utusanMu
Engkau sendiri Ya Qayyum tak pernak tidur
Kasihanilah tangisku yang mengharapkan ampunanMu

Tuhanku...
Demi kemuliaan dan ampunanMu
Sekiranya Engkau mengusirku
Maka hamba tetap berdiri di depan gerbangMu
Dan hamba tidak akan berhenti merayuMu

Ya Rabbi...
Kepada siapa lagi seorang hamba datang
Kalau bukan kepada tuannya
Telah sering hamba menjauhiMu
Namun pada akhirnya kepadaMu jua lah hamba kembali

Ya Illahi...
Sungguh terasa tenang batin ini
Disaat memanggilMu
Terasa tentram jiwa hamba
Disaat memohon kepadaMu

Hanya padaMu hamba tujukan apa yang dimaksud
Wahai Yang Menghalau segala sesuatu
Sebagai bukti kekuasaan dan kemuliaanMu
Masukkanlah ke kalbu hamba
Kegembiraan dalam menyambutMu
Gabungkanlah hamba
Dalam orang-orang yang ta’at kepadaMu

Sabtu, 08 Januari 2011

~~Kalah Sebelum Bertanding~~






Dizaman imam Ahmad, sekelompok orang penganut paham atheis berusaha mengacau keimanan umat perihal adanya Tuhan. Dengan dukungan argumentasi dan logika yang kuat, mereka berhasil memutar balikkan fakta. Kata mereka, alam semesta terjadi dengan sendirinya. Tanpa campur tangan Zat Maha Tinggi (Allah). Alhasil manusia tidak perlu menyembah Tuhan. Sesuatu yang tidak pernah ada, begitu nalar mereka.

               Sudah banyak ulama yang berusaha meluruskan dengan cara mendebatnya. Tapi pendapat kaum atheis ini belum jua terkalahkan. Bahkan mereka semakin congkak dengan keingkarannya.  Hingga datang tantangan berdebat dari seorang alim yang sangat sederhana yang tak lain adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Penampilannya sekilas tak menunjukkan bahwa ia seorang ulama yang berilmu tinggi. Namun seorang kaum atheis menerima tantangannya. Syaratnya, harus diadakan di ruang terbuka, yang dihadiri banyak orang. Dipilihlah waktu dan tempat yang disetujui bersama.
               Pada hari H, Imam Ahmad datang terlambat. Tentu saja ia dicaci maki oleh kaum atheis dan penonton kesal menunggu.

“sabar, sabar... beri aku kesempatan menjelaskan sebab keterlambatan ini,” ujarnya tenang.

Walau mereka masih menggerutu, mereka menahan suara.

“Begini, perlu kalian ketahui bahwa saya tinggal dipinggir kota. Antara kita dipisahkan sebuah sungai yang cukup lebar. Nah, ketika hendak kemari saya tidak mendapatkan kapal untuk menyebrang. Itu sebabnya saya datang terlambat.

“Bagaimana anda bisa tiba kemari kalau tidak mendapatkan perahu?” tanya mereka heran.

“Sungguh ajaib” sahut Imam Ahmad. “Tiba-tiba selembar papan hanyut terapung-apung dan dengan sendirinya berhenti di depanku. Kemudian disusul dengan papan-papan lainnya yang hanyut lalu bergabung dengan papan pertama. Lantas tiba pula seutas tali. Papan-papan itu dan tali merakit diri mereka dengan sendirinya sehingga menjadi sampan yang tahan dari kemasukan air. Nah, sampan kecil itulah yang menyeberangkan saya hingga saya sampai ke tempat ini dengan selamat”. Ungkapnya panjang lebar.

Kelompok atheis tertawa terbahak-bahak. Salah seorang diantara mereka menjawab ketus, “Ahh, anda membuat lelucon saja. Itu mustahil. Tidak masuk akal.”

            Imam Ahmad menjawab santai, “Nah, kalau kalian mengingkari bahwa sampan sekecil itu merakit dirinya sendiri, maka mana mungkin alam semesta yang besar dan rumit ini terjadi dengan sendirinya tanpa perantara Allah?”
Mereka bungkam, diam seribu bahasa dan berkeringat. Karena tidak menemukan jawaban yang tepat mereka pergi begitu saja. Seketika penonton bersorak sorai gembira, mengelukan Imam Ahmad yang sederhana tapi amat cerdas. Hanya dengan logika yang amat sederhana, kelompok atheis kalah sebelum bertanding. Agaknya orang-orang atheis tu  harus segera memilih antara debat ataukah taubat.

❤❤ Mari Kita Bercinta ❤❤


Cinta...???

Sapa yang ngak tau cinta?? Ya pasti tau lah...

Cinta membuat orang selalu mengingat yang dicintainya...

Cinta selalu membuat orang menyebut-nyebut orang yang dicintainya...

Cinta membuat orang lebih mengutamakan orang yang dicintai daripada diri sendiri...

Cinta membuat orang selalu mengenang yang dicintainya...

Semua orang mendambakannya, bahkan ada yang rela mengakhiri hidupnya demi cinta....

          Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Pepatah yang sering kita dengar untuk menandakan jalinan hubungan yang dekat dengan seseorang. Pepatah ini begitu mempunyai makna yang sangat dalam. Bayangkan saja, bagaimana kita dapat menumbuhkan kepedulian terhadap sesama atau diri kita, apabila kita tidak mengenal dan tidak ada rasa kasih sayang sedikit pun terhadap hubungan interaksi antar manusia, atau diri kita yang sudah terlalu banyak dirusak oleh kebodohan kita sendiri. Bagaimana jadinya? Hasilnya, bukan hanya tak kenal dan tak sayang tapi juga tak mau tau dengan keadaan lingkungan. Akhirnya merambat pada ketidakpedulian dengan menafikkan hati nurani yang rindu akan keakraban dengan Sang Pencipta.

           Selama ini kita telah mengaku mengenal Tuhan, mengaku dekat denganNya. Kemudian telah berada didalam jalanNya, tapi sadar tidak sadar kita masih sedikit kenal dengan Dzat Yang Maha Suci. Kita mengenal hanya sebatas pengetahuan, terikat oleh nama. Lalu pernahkah kita mencoba mengenal Dia dengan menggunakan hati nurani, mencerna semua ciptaNya dengan akal.

           Begitu sedikitnya kita mengenal Dia, maka tak akan mungkin kita mampu menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup kita. Dalam mengenal Allah SWT, ada hal utama yang harus kita pahami. Dengan Al-Quran kita dapat mengambil pelajaran penting sebagai bekal kehidupan didunia juga akhirat.

            Mengenal Allah yang diajarkan kepada manusia adalah mengenal melalui hasil penciptaannya bukan melalui zat Allah. Karena akal kita memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh ilmu yang ada di dunia ini, apalagi zat Allah. Bahwa setiap makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang pasti ada penciptanya. Tidak mungkin makhluk tercipta dengan sendirinya, dan tidak mungkin pula tercipta secara kebetulan.

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?” (Ath-Thuur: 35-37).

Dalam ayat diatas jelaslah bahwa makhluk dan alam semesta tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk serta alam semesta ini tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelas yang menciptakannya adalah Allah.

           Hasil dari mengenal Allah adalah peningkatan iman dan taqwa sehingga muncul beberapa hal yaitu Kebebasan (dengan mengenal Allah kiat menjadi manusia yang bebas, tidak menjadi budak sesama makhluk dan tidak juga menyembah apapun kecuali Allah SWT yang memang berhak untuk disembah) ,  Memberi ketenangan, Keberkahan, Kehidupan yang baik, Syurga dan Keridhaan Allah (Mardhatillah).

             Dengan mengenal Allah  akan membuahkan rasa cinta, takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.

             Cara mencintai Allah tentu harus sesuai dengan cara yang ditentukan Allah SWT. Bukan dengan cara mengarang-ngarang sendiri, apalagi menciptakan sendiri ritual-ritual aneh yang tidak ada dasarnya dari Allah SWT. Dan bentuk mencintai Allah SWT yang paling tepat adalah dengan cara mengikuti petunjuk dari Rasulullah SAW. Sebab beliau adalah petugas resmi yang diutus Allah SWT kepada umat manusia untuk mengajarkan bagaimana cara mewujudkan bentuk real sebuah cinta kepada-Nya.

Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.Ali Imran: 31)

             Apapun realisasi rasa cinta seseorang kepada Allah SWT, tetapi kalau sampai bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan, maka pengungkapan bentuk cinta itu justru tertolak, bahkan malah melahirkan laknat dan siksa dari Allah. Sebab kedudukan Rasulullah SAW adalah sebagai utusan resmi satu-satunya dari Allah kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh makhluk hidup yang ada. Maka apa pun yang beliau sampaikan, wajib kita ikuti dengan sepenuh hati. Sebaliknya, apapun yang dilaranganya, tentu saja wajib kita jauhi dari diri kita. Penegasan pernyataan ini disampaikan Allah langsung di dalam Al-Quran Al-Kariem.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr: 7)

             Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menggambarkan sebuah pengibaratan tentang bentuk cinta kepada Allah. Beliau berkata bahwa cinta kepada Allah itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah mengenal nama dan sifat Allah, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya Dan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya. Kapanpun jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).

Cara untuk  mendapatkan cinta Allah:
• Membaca Al-Qur'an dengan memikirkan dan memahami maknanya.
• Berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan ibadah sunnah setelah menyelesaikan ibadah yang wajib.
• Selalu mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala , baik dengan lisan, hati maupun dengan anggota badan dalam setiap keadaan.
• Lebih mengutamakan untuk mencintai Allah Subhannahu wa Ta'ala daripada dirinya ketika hawa nafsunya menguasai dirinya.
• Memahami dan mendalami dengan hati tentang nama dan sifat-sifat Allah.
• Melihat kebaikan dan nikmatNya baik yang lahir maupun yang batin.
• Merasakan kehinaan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
• Beribadah kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir (di saat Allah turun ke langit dunia) untuk bermunajat kepadaNya, membaca Al-Qur'an , merenung dengan hati serta mempelajari adab dalam beribadah di hadapan Allah kemudian ditutup dengan istighfar dan taubat.
• Duduk dengan orang-orang yang memiliki kecintaan yang tulus kepada Allah dari para ulama dan da'i, mendengarkan dan mengambil nasihat mereka.
• Menjauhi/menghilangkan hal-hal yang menghalangi hati dari mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala.
• Saling mencintai sesama makhluknya
      Mencintai manusia, pada hakikatnya, sama dengan mencintai Tuhan, karena manusia dan alam ini adalah manifestasi-Nya juga. Mungkin kita pernah berdoa, ”Ya Allah, kasihanilah kami” Tetapi bagaimana jika ditanyakan kepada kita,”Apakah kalian sendiri juga suka menyayangi, mengasihi orang lain?”
Atau hampir setiap waktu kita berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah kami” Tetapi bagaimana jika ditanyakan kepada kita,”Seberapa banyak kalian telah memberi maaf kepada manusia?”

Sewaktu masih kecil Imam Husain as (cucu Rasulullah saww) bertanya kepada ayahnya, Imam Ali as, “Ayah, apakah engkau mencintai Allah?”

Imam Ali as menjawab, “Ya, Tentu!”

Lalu Husain kecil bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?” (maksudnya Rasulullah)

Imam Ali as kembali menjawab, “Ya, tentu saja!”.

Imam Husain bertanya lagi, “Apakah engkau juga mencintai Ibuku?”

Lagi-lagi Imam Ali as menjawab, “Ya, Tentu saja aku mencintai ibumu”

Husain kecil kembali bertanya, “Apakah engkau juga mencintaiku?”

Imam Ali as tersenyum dan menjawab, “Ya, tentu saja aku juga mencintaimu!”

Terakhir kali Husain kecil bertanya,”Ayahku, bagaimana bisa engkau menyatukan begitu banyak cinta di dalam hatimu?”

Imam Ali as kemudian menjelaskan kepada puteranya yang sangat dicintainya itu, “Wahai Anakku, pertanyaanmu hebat! Ketahuilah, cintaku pada kakek dari ibumu (Nabi saww), ibumu (Fathimah as) dan kepadamu sendiri adalah karena cintaku kepada Allah. Karena sesungguhnya semua cintaku itu adalah cabang-cabang cintaku kepada Allah Swt”
Setelah mendengar penjelasan ayahnya itu, Husain kecil tersenyum mengerti.

Dan juga dari Sufyan bin Uyainah r.a. ia berkata :
“Barangsiapa cinta kepada Allah, maka cinta kepada orang yang dicintai Allah, barangsiapa cinta terhadap orang dicintai Allah, maka cinta perbuatan yang dilakukan karena cinta Allah, barangsiapa cinta terhadap perbuatan yang dilakukan karena cinta Allah, maka cinta melakukan perbuatan itu tanpa diketahui orang lain.”

Jumat, 07 Januari 2011

~>>Penyesalan atas Kelalaianku<<~





Ya Rabbana...
Kami adalah hamba-hambaMu yang sering melalaikan perintahMu
Ketika Engkau memanggil kami untuk mengerjakan sholat
Kami pekakkan telinga kami, kami asyik dengan kesenangan kami
Engkau selalu memanggil kami dengan panggilan kasih sayang
Tapi kami membalasmu dengan kemaksiatan

Ya Tuhan kami...
Kami mengaku sebagai hambaMu
Tapi kami lebih sering menjadi hamba-hamba syetan dan hawa nafsu kami
Engkau larang kami membenci, tapi dengan enteng kami mengerjakannya
Engkau perintahkan kami untuk menjaga kehormatan kami tapi kami melanggarnya
Engkau perintahkan kami untuk tidak menyakiti sesama dengan ucapan ataupun perbuatan
Tapi itulah kesenangan kami sehari-hari

Ya Tuhan kami...
Engkau suruh kami membersihkan hati kami
Tapi tiap hari hati kami makin kotor dan makin buram
Dan semakin penuh dengan kebusukan

Illahi...
Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Engkau
Dan Muhammad itu utusan Engkau
Engkau perintahkan kami untuk mengambil petunjuk dari Al-Quran
Tapi kami tinggalkan disudut-sudut rumah kami
Kami enggan membacanya kecuali ketika maut menjemput salah seorang keluarga kami
Atau kami baca Al-Quran
Tapi setiap saat kelakuan kami bertentangan dengannya
Engkau perintahkan kami untuk mencintai Rasul
Tapi kami enggan untuk meneladani perilakunya

Ya Allah...
Sulit lidah untuk berzikir kepadaMu
Berat kaki kami melangkah menujuMu
Kering mata kami untuk mengalir air mata kekhusukan
Gelap hati kami untuk melihat cahaya kesucian
Kami tinggalkan Engkau untuk kesenangan dunia

Ya Rabbana...
Kami layak menerima azabMu dan hukuman dariMu
Kami tak pantas menerima kasih sayangMu
Tetapi Ya Allah, kasihMu lebih besar daripada dosa-dosa kami
Jika dosa-dosa kami besar disisiMu
Ampunanmu lebih besar daripada dosa-dosa kami

Ya Illahi...
Kami memohon kepadaMu
Demi kemurahan dan kebaikanMu
Kami bersimpuh dihadapanMu
Kami berharap dapat sampai ke halaman kasihMu dan anugrahMu
Jika Engkau hanya menyayangi orang yang rajin sholat, puasa, zakat dan haji dengan penuh ikhlas kepadaMu
Maka siapa yang akan menyayangi pendosa yang durhaka, yang tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatannya
Ya Illahi junjunganku, ampunilah kejahatanku dengan kemuliaan wajahMu

Selasa, 04 Januari 2011

Kenapa harus pacaran???



Teman-temanku bertanya, kenapa sih sampai sekarang kamu masih jomblo? Apa kamu tidak kepingin coba gimana rasanya pacaran? Asyik loh!!! Ada yang menyayangi, perhatian dan bisa jadi teman curhat gitulah.... Lagian kita juga bisa menentukan pasangan hidup kita.... Kalau kamu ngak pacaran, gimana kamu bisa tau calon pasangan hidupmu ....
Trus aku jawab “bukannya pacaran itu dilarang agama, kan masih banyak cara yang lain untuk menemukan pasangan hidup seperti dijodohin gitu”... Mereka pun menjawab, “ya... pacaran secara islamilah, jangan niru gaya pacaran zaman sekarang.... ya elah ngapain kamu dijodohin, sekarangkan bukan lagi zaman siti nurbaya....

Hmmm.....
Apa bener pacaran itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita ?

Apa memang bener ada pacaran yang Islami itu?  

Gimana sich sebenernya pacaran itu, enak ngga' ya? bahaya ngga' ya ?

           Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.

           Islam jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya.
Sebagaimana tercantum dalam hadis berikut ini:
 "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya(HR Bukhari dan Muslim daro Ibnu Abbas).
  "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati." (Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah).

           Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atau memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya."
Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalanterjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !

            Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya...... dahsyat man...... yang diinget cuma si dia, pengen selalu berdua, akan makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe akhirnya....... pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena pengen buktiin cinta, bisa buat perut besar (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak .... dukun pun ikut bertindak.

            Pacaran adalah sebuah proses ketidakpuasan yang terus berlanjut untuk sebuah pembuktian cinta. Kita lihat secara umum tahapan dalam pacaran.
  1. Berkenalan, baik melalui perantara teman atau inisiatif sendiri. hasrat ingin berkenalan ini begitu menggebu karena dirasakan ada sifat2 yang menjadi sebab keduanya merasakan getaran yang lain dalam dada. Hubungan pun berlanjut, penilaian terhadap sang kenalan terasa begitu manis, pertama ia nilai dengan daya tarik fisik dan penampilannya, mata sebagai juri. Senyum pun mengiringi, kemudian tertegun akhirnya , akhirnya jantung berdebar, dan hati rindu menggelora. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah kata-kata pujian, kemudian ia tuliskan dalam buku diary, "Akankah ia mencintaiku." Bila bertemu ia akan pandang berlama-lama, ia akan puaskan rasa rindu dalam dadanya.
  2. Pengungkapan diri dan pertalian, disinilah tahap ucapan I Love You, "Aku mencintaimu". Si pria mengutarakan perasaannya dengan mengatakan I Love U atau Aku Cinta Kamu. Jika si wanita diam dengan tersipu dan tertunduk malu, maka si pria pun telah cukup mengerti dengan sikap itu. Kesepakatan  pun dibuat, ada ijin untuk datang kerumah, "Apel Mingguan atau Wakuncar ". Kapan pun si pria pengin datang maka pintu pun terbuka dan di sinilah mereka akan menumpahkan perasaan masing-masing, persoalanmu menjadi persoalannya, sedihmu menjadi sedihnya, sukamu menjadi riangnya, hatimu menjadi hatinya, bahkan jiwamu menjadi hidupnya. Sepakat pengin terus bersama, berjanji sehidup semati, berjanji sampai rumah tangga. Asyik dan syahdu.
  3. Pembuktian, inilah sebuah pengungkapan diri, rasa cinta yang menggelora pada sang kekasih seakan tak mampu untuk menolak ajakan sang kekasih. " buktikan cintamu sayangku". Hal ini menjadikan perasaan masing-masing saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan diantara keduanya. Bila sudah seperti ini ajakan ciuman bahkan lebih dari itu pun sulit untuk ditolak. Na'udzubillah

           Begitulah akhirnya mereka berdua telah terjerumus dalam nafsu syahwat, tali-tali iblis telah mengikat. Mereka jadi terbiasa jalan berdua bergandengan tangan, canda gurau dengan cubit sayang, senyum tawa sambil bergelayutan,  dan cium sayang. Kunjungan kesatu, kedua, ketiga, keseratus, keseribu, dan yang tinggal sekarang adalah suasana usang, bosan, dan menjenuhkan percintaan . Segalanya telah diberikan si wanita, dan  ketika si pria dituntut bertanggung jawab ? Ternyata ia pergi tanpa pesan walaupun datang dengan sejuta kesan. Sungguh malang nasib wanita yg ditinggalkan.


           Wahai para Muslimah sadarlah akan lamunan kalian , bayang-bayang cinta yang suci, bukanlah dengan pacaran , cobalah pikirkan buat kamu muslimah yang masih bergelimang dengan pacaran atau kalian wahai pemuda yang suka gonta-ganti pacar. Cobalah jawab dengan hati jujur pertanyaan-pertanyaan berikut dan renungkan ! Kami tanya :
  1. Apakah kamu dapat berlaku jujur tentang hal adegan yang pernah kamu lakukan waktu pacaran dengan si A,B,C s/d Z kepada calon pasangan yang akan menjadi istri atau suami kamu yang sesungguhnya ? Kalau tidak kenapa kamu berani mengatakan, pacaran merupakan suatu bentuk pengenalan kepribadian antara dua insan yang saling jatuh cinta dengan dilandasi sikap saling percaya ? Sedangkan kenapa kepada calon pasangan hidup kamu yang sesungguhnya kamu berdusta ? Bukankah sikap keterbukaan merupakan salah satu kunci terbinanya keluarga sakinah?
  2. Mengapa kamu pusing tujuh keliling untuk memutuskan seseorang menjadi pendamping hidupmu ? Apakah kamu takut mendapat pendamping yang setelah sekian kali pindah tangan ? ” Aku ingin calon pendamping yang baik-baik” Kamu katakan seperti ini tapi mengapa kamu begitu gemar pacaran, hingga melahirkan korban baru yang siap pindah tangan dengan kondisi ” Aku bukan calon pendamping yang baik” , bekas dari tanganmu, sungguh bekas tanganmu ?
  3. Jika kamu disuruh memilih diantara dua calon pasangan hidup kamu antara yang satu pernah pacaran dan yang satu begitu teguh memegang syari’at agama, yang mana yang akan kamu pilih ? Tentu yang teguh dalam memegangi agama, ya kan ? Tapi kenapa kamu berpacaran dengan yang lain sementara kamu menginginkan pendamping yang bersih ?
  4. Bagaimana perasaan kamu jika mengetahui istri/ suami kamu sekarang punya nostalgia berpacaran yang sampai terjadi tidak suci lagi ? Tentu kecewa bukan kepalang. Tetapi mengapa sekarang kamu melakukan itu kepada orang yang itu akan menjadi pendamping hidup orang lain ?
  5. Kalaupun istri/suami kamu sekarang mau membuka mulut tentang nostalgia berpacaran sebelum menikah dengan kamu. Apakah kamu percaya jika dia bilang kala itu kami berdua hanya bicara biasa-biasa saja dan tidak saling bersentuhan tangan ? Kalau tidak kenapa ketika pacaran bersentuhan tangan dan berciuman kamu bilang sebagai bumbu penyedap ?
  6. Jika kamu nantinya sudah punya anak apakah rela punya anak yang telah ternoda ? Kalau tidak kenapa kamu tega menyeret Ortu kamu ke dalam neraka Api Allah ? Kamu tuntut mereka di hadapan Allah karena tidak melarang kamu berpacaran dan tidak menganjurkan kamu untuk segera menikah.
            Tak ada yang tahu, pasangan kita saat ini jodoh kita atau tidak. Tak ada yang tahu sampai kapan pasangan kita mencintai kita. Tak ada yang dapat mebuktikan cinta, selain waktu dan keseriusan. Sabar menunggu waktu itu tiba, dan dengan serius menjalaninya di ikatan pernikahan.

             Karena itu wahai muslimah dan kalian para pemuda kembalilah ke fitrah semula. Fitrah yang telah menjadi sunattullah, tidak satupun yang lari daripadanya melainkan akan binasa dan hancur.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal[Q.S, Al-Hujuraat:13]

             Allah telah menganugrahkan pada kita perasaan suka pada lawan jenis,dan itu dibenarkan oleh syari’at, bahkan dianjurkan utk menyalurkan perasaan tsb dlm pernikahan. Saat perasaan tsb muncul pd seseorang, maka Islam menganjurkan utk dibingkai dlm rangka ibadah pada Allah yaitu dlm sebuah pernikahan. Komitmen dalam pernikahan itulah yang menunjukkan bahwa hidup bukanlah hanya untuk mengumbar cinta semata. Namun, sayangnya, komitmen ini disalahgunakan, dipermak sedemikian rupa sehingga banyak istilah bermunculan seperti pacaran, tunangan, dan lain-lain yang nota bene semua itu hanyalah mengikuti nafsu yang tak mau menunggu dengan sabar.

            Wahai pemuda, jika kamu benar-benar mencintainya maka lamarlah dia, bukan mengajaknya pacaran. Jika kamu belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam . Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya . Dengan begitu kau telah memuliakan dia, karena kamu tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang dan tak mau merusak kesucian serta penjagaan hatinya.

            Ketahuilah wahai muslimah, Islam begitu melindungi wanita dengan mengharamkan pacaran. Selain mendekati zina, pacaran juga dapat menyudutkan wanita dan membuat kehormatan wanita tidak berharga. Andai sedikit saja wanita dapat menjaga diri dan bersabar, banyak keuntungan yang dapat mereka dapatkan, mereka dapat menjaga kehormatan dirinya tanpa menimbulkan fitnah dan tak ada rasa malu kepada tetangga karena tak ”jadi” dengan pacarnya.

             Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan) Allah, dimana manusia nggak punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."


Sabtu, 01 Januari 2011

~~Robbi...Hamba Rindu~~



Robbi... saat ini hamba masih Engkau izinkan berkelana di dunia nan fana ini
Saat ini dan seterusnya hamba ingin memberikan yang terbaik untuk Din yang hamba cintai
Wahai Robbi... hamba ingin berjumpa denganMu
Hamba ingin melihat Engkau tersenyum dan bahagia
Kususuri terjalnya kehidupan, kulangkahkan kaki seiring senyuman, kucari muara cinta
Kuseru dan kuberlari... Robbi... hamba rindu

Wahai Robbiku... suaraku berteriak nyaring ditengah padang gersang kehidupan
Diatas hehijauan bukit nan tinggi, suaraku mungkinkah memecah langit
Ingin ku guncang ArsyiMu, ingin ku berlari dan terbang menuju langitMu nan biru
Dan ku ingin berlabuh dibelaiMu dalam rindu
Robbi...peluk hamba dalam kasih dan cintaMu

Robbi...seluruh tubuh ini adalah ayat-ayatMu
Jangan biarkan terlepas dari kemuliaanMu
Hamba yang merindu, hamba tak ingin jauh dariMu
Robbi...hadirlah selalu bersamaku
Jangan biarkan hamba sendiri, seluruh kekuatanku adalah kuasaMu
Ya Allah, Ya Robbiku.... dunia dan akhirat hamba selalu ingin bersamaMu
Peluk dan dekap eratlah hamba dalam kasih sayang dan cintaMu