muhasabah

dibawah langit

Assalamu'alaikum

Label

Senin, 24 Januari 2011

DOAKU HARAPANKU



Ya Allah...
Jika aku jatuh hati
Izinkanlah hatiku tersentuh oleh seseorang yang hatinya terpaut pada-Mu
Agar aku tidak terjatuh kedalam jurang cinta semu

Ya Allah....
Jika aku jatuh hati
Jagalah hatiku padanya
Agar aku tidak berpaling dari hati-Mu

Ya Allah...
Jika aku jatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugrahkanlah aku cinta-Mu
Cinta yang tidak pernah pupus oleh waktu

Ya Rabb....
Jika aku jatuh cinta
Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu

Ya Rabb...
Jika aku jatuh cinta
Jagalah cintaku padanya
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah...
Bila aku rindu
Rindukanlah aku pada seseorang
Yang merindukan nikmat cinta-Mu

Ya Allah...
Jika aku rindu
Jagalah rinduku padanya
Agar aku tidak lalai merindukan surga-Mu

Ya Allah...
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami dalam hubungan yang Engkau ridhoi
Berikanlah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Ya Rabb...
Jika aku menikmati cinta kekasihku
Jagalah kenikmatan itu
Agar tidak melebihi kenikmatan indahnya bermunajat pada-Mu

Ya Rabb....
Jika aku mencintainya
Ku harap cintaku padanya hanya karna-Mu

~❤ MencintaiMu ❤~




Ya Allah...
dimana lagikah dapat ku temui cinta sejati
kecuali pada cintaMu...
Kemana lagikah cinta ini harus berlabuh
Kecuali pada kasihMu...
Jadikanlah hati yang lemah ini Ya Allah...
Tertambat kukuh hanya padaMu...
Aku mohon ridho atas segenap keputusanMu
Kesejukan setelah matiku..
Kenikmatan memandang wajahMu
Dan Kerinduan untuk berjumpa denganMu
Ampunilah diri ini yang tidak berharga ya Allah
Penuhilah kehinaannya dengan keindahan magfirahMu

Ya Allah...
Masukkanlah aku dalam kalangan hamba-hambaMu
Yang Engkau cintai
Karuniakanlah aku cinta... orang yang cinta kepadaMu
Dan cinta orang... yang cinta kepada orang yang dekat kepadaMu
Dan jadikan cintaku terhadap Engkau Ya Allah...
lebih aku cintai daripada cintaku yang lain

Minggu, 23 Januari 2011

Sudahkah Kita Berbakti pada Orang Tua???

Allah menganjurkan kita agar menghormati dan berbakti pada orangtua. Mereka yang tidak menghormati dan berbakti pada orangtua, cepat atau lambat akan mengalami kesulitan dan kesusahan hidup yang tak pernah mereka bayangkan.
Begitu tingginya derajat orangtua sehingga menjadikan orangtua sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Susah senangnya kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor bakti kita pada orangtua. Sebagai seorang anak, maka kewajiban kita adalah berbakti pada orangtua dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Menjaga hati dan perasaan orangtua adalah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan oleh seorang anak. Begitu besar perjuangan orangtua terhadap kehidupan anaknya. Mereka membesarkan kita dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Mereka mendidik kita agar kelak menjadi orang yang berguna bagi sesama, berguna buat bangsa dan negara terlebih agama.

Ridhanya Allah adalah ridhanya orangtua, murkanya Allah adalah murkanya orangtua, sakitnya Allah adalah sakitnya orangtua. Poin penting inilah yang akan kita renungkan dan hayati bersama dalam menyingkap rahasia di balik keberhasilan seseorang. Banyak orang yang menyepelekan akan hal ini, tapi banyak pula yang menjadikan orangtua sebagai suatu faktor penting dalam hidupnya, dan merekalah orang-orang yang selamat yang akan menemui kebahagiaan hakiki. Mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan nikmat dan karunia-Nya dikarenakan mereka telah berbakti dan memperlakukan orangtua dengan sebaik-baiknya.

Seseorang yang beriman dan bertakwa tetapi tidak menghormati dan berbakti pada orang tua, maka sesungguhnya mereka tidaklah sempurna keimanannya. Ketika seorang anak yang mulai tumbuh dewasa memiliki cita-cita dan keinginan terhadap sesuatu, maka hendaknya mereka mendatangi orangtua terlebih dahulu, jika orangtua ridha maka Allah pun ridha. Sungguh tiada berguna bila mereka taat beribadah tetapi durhaka pada orangtua. Begitu mulianya kedudukan orangtua pada pandangan Allah, sehingga Allah selalu mengingatkan kita agar senantiasa berbakti kepada orangtua.

Alloh yang Maha Bijaksana telah mewajibkan setiap anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Bahkan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua dalam Al Qur’an digandengkan dengan perintah untuk bertauhid sebagaimana firman-Nya,

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (Al Isro’: 23)

“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (An Nisa: 36).

 Rosululloh menghubungkan kedurhakaan kepada kedua orang tua dengan berbuat syirik kepada Alloh. Dalam hadits Abi Bakrah, beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar ?” para sahabat menjawab, “Tentu.” Nabi bersabda, “(Yaitu) berbuat syirik, duraka kepada kedua orang tua.” (HR. Al Bukhori)

Membuat menangis orang tua juga terhitung sebagai perbuatan durhaka, tangisan mereka berarti terkoyaknya hati, oleh polah tingkah sang anak. Ibnu ‘Umar menegaskan: “Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan yang besar.” (HR. Bukhari)

Bentuk-Bentuk Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua Adalah :

Pertama.
Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberikan kegembiraan kepada seorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.


Dalam nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada istri, maka kepada kedua orang tua harus lebih dari kepada istri. Karena dia yang melahirkan, mengasuh, mendidik dan banyak jasa lainnya kepada kita.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka fardhu ‘ain) dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kembali dan buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis” [Hadits Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i] Dalam riwayat lain dikatakan : “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Kedua.
Yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara dengan anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua, tidak boleh mengucapkan ‘ah’ apalagi mencemooh dan mencaci maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua. Jika hal ini sampai terjadi, wal iya ‘udzubillah.

Kita tidak boleh berkata kasar kepada orang tua kita, meskipun keduanya berbuat jahat kepada kita. Atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua atau orang tua memukul kita atau keduanya belum memenuhi apa yang kita minta (misalnya biaya sekolah) walaupun mereka memiliki, kita tetap tidak boleh durhaka kepada keduanya.

Ketiga.
Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh sombong apabila sudah meraih sukses atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.

Seandainya kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan dan merendahkan kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh adalah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik selagi keduanya masih hidup.

Keempat.
Yaitu memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Baqarah ayat 215.
“Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui”

Jika seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkannya yang pertama adalah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang yang dalam perjalanan. Berbuat baik yang pertama adalah kepada ibu kemudian bapak dan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut.

“Artinya : Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat” [Hadits Riwayat Bukhari]

Sebagian orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan. Yang mengatur harta adalah suami sebagaimana disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki-laki adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat baik lainnya kepada kedua orang tuanya.

Kelima.
Mendo’akan orang tua. Sebagaimana dalam ayat “Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro” (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita harus tetap berlaku lemah lembut kepada keduanya. Dakwahkan kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil berdo’a di malam hari, ketika sedang shaum, di hari Jum’at dan di tempat-tempat dikabulkannya do’a agar ditunjuki dan dikembalikan ke jalan yang haq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila kedua orang tua telah meninggal :
Menurut hadits-hadits yang shahih tentang amal-amal yang diperbuat untuk kedua orang tua yang sudah wafat, adalah :

[1] Mendo’akannya
[2] Menshalatkan ketika orang tua meninggal
[3] Selalu memintakan ampun untuk keduanya.
[4] Membayarkan hutang-hutangnya
[5] Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at.
[6] Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya

[Diringkas dari beberapa hadits yang shahih]

Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

“Artinya : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal” [Hadits Riwayat Muslim]

Dalam riwayat yang lain, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma menemui seorang badui di perjalanan menuju Mekah, mereka orang-orang yang sederhana. Kemudian Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada orang tersebut dan menaikkannya ke atas keledai, kemudian sorbannya diberikan kepada orang badui tersebut, kemudian Abdullah bin Umar berkata, “Semoga Allah membereskan urusanmu”. Kemudian Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhumua berkata, “Sesungguhnya bapaknya orang ini adalah sahabat karib dengan Umar sedangkan aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman ayahnya” [Hadits Riwayat Muslim]

Sekarang kita ketahui bersama apa arti penting dan keutamaan berbakti pada orang tua. Kita ingat kembali, betapa sering kita membuat marah dan menangisnya orang tua? Betapa sering kita tidak melaksanakan perintahnya?. Bersegeralah kita meminta maaf pada keduanya, ridho Alloh tergantung pada ridho kedua orangtua. Marilah kita bersama-sama berusaha untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Semoga kesalahan yang telah kita perbuat pada orang tua dapat diampuni...





Sabtu, 22 Januari 2011

Maafkan Aku Ayah


ku tahu betapa sayang dirimu padaku ayah
padahal sesungguhnya
engkau terluka karena aku
engkau kecewa karena tingkahku

maafkan aku ayah
tak ada maksudku tuk buatmu bersedih
tak ada maksudku tuk melupakanmu
tak ada maksudku tuk buatmu kecewa
tak ada ayah...tak ada...

ku tau engkau sangat menyayangi kami
ku tau engkau ingin membahagiakan kami
ku tau engkau berjuang tuk memenuhi hidup kami
ku tau engkau ingin selalu dekat dengan kami
ku tau ayah... ku tau...

ayah...
kubayangkan air mata memenuhi pelupuk matamu
membuatku merasa bersalah dan bersedih
tak ada yang dapat kuucapkan
selain kata maaf kepadamu
maafkan aku ayah...
maafkanlah atas kesalahan anakmu...
maafkanlah ayah...maafkan...

~~~~~~~~~~~~~~
sedikit catatan tentang puisi: mengisahkan kejadian beberapa hari yang lalu...

Maafkan aku ayah... bukan aku bermaksud untuk melupakan hari istimewamu, tapi aku benar-benar lupa mengucapkan selamat hari lahir padamu. Tanggal 20 januari seperti biasanya kami selalu mengucapkan selamat hari lahir pada orang tuaku, ayah. Dan seperti biasanya setiap hari istimewa sapa pun dalam keluargaku, aku selalu membuatkan kue untuk mereka. Kue yang dibuat dengan sedikit hiasan untuk dimakan bersama-sama anggota keluarga sebagai bentuk syukur kami bahwa Allah masih memberi kami waktu untuk berkumpul. Namun pada hari itu aku benar-banar lupa mengucapkan selamat pada ayah sekaligus juga lupa membuatkan sesuatu buatnya.

Padahal 2 hari sebelumnya aku sudah mengingat-ingat agar membeli bahan untuk membuat kue, tapi aku lupa, hingga hari istimewa ayahku. Pada hari istimewanya, aku baru ingat ketika jam sudah 11 malam, mau mengucapkan selamat ternyata ayah sudah tidur. Ketika esok paginya, aku lupa lagi. Ketika siang hari, ibu bercerita bahwa ayah bersedih karna aku tidak mengucapkan selamat hari lahir padanya. Kata ayah pada ibuku, " si dhia indak ado mangatoan salamaik do, padahal saharian inyo dirumah se karajonyo. sangko ka mangucapkan salamaik tadi ka ambo (saya), kironyo minta pitih tuak baia aia galon. anak awak yang di jawa se kuliahnyo ado ngucap salamaik, ko yang dirumah se karajonyo cuek se nyo". (si dhia ngak ada mengucapkan selamat, padahal seharian dhia dirumah aja kerjanya. Kirain mau mengucapkan selamat ke ayah, ternyata minta pitih untuk bayar air galon. Anak kita yang di jawa saja kuliah ada ngucap selamat ke ayah, nih yang dirumah aja kerjanya cuek aja).  Duh... merasa sangat bersalah dan bersedih jadinya, pantasan ketika makan malam, ayah menatapku dengan tatapan sedih, tapi aku kurang peka akan perubahan suasana yang terjadi. Sore hari itu juga selepas ayah pulang kerja, aku langsung minta maaf karna kemaren lupa ngucapin selamat pada ayah. Barulah aku melihat raut keceriaan diwajah ayahku, walaupun sudah terlambat tuk mengatakannya.

Aku ingat 10 tahun yang lalu ayahku juga pernah sedih bahkan meneteskan air mata. Pada waktu libur kakakku yang sekolah di aliyah pada kota yang berbeda datang ke rumah, namun lupa mengucap salam atau menghampiri ayahku untuk menanyakan kabarnya. Baru 2 jam kemudian kakakku sadar, ayah dari tadi tidak kelihatan, dicarinya ayah ternyata ayah sedang menangis dikamar. Melihat kejadian itu kakakku merasa bersalah, menangis dan minta maaf karna sebelumnya sudah melihat ayah tapi tidak langsung menyapa ayah. Beberapa tahun yang lalu aku juga melihat ayah menangis karna kakakku tidak menuruti permintaan ayahku.

Sebuah kata selamat, pamitan, salam, ucapan terima kasih dll begitu ditunggu-tunggu oleh orang tua kita, kadang kita tidak menyadari bahwa kata sekecil apapun itu tapi begitu bermakna bagi orang tua kita. Maafkan aku ayah...Maafkan anak-anakmu yang masih belum bisa membahagiakanmu...  Kami akan berusaha menjadi anak yang selalu berbakti padamu..


Selasa, 18 Januari 2011

Bukan itu yang Namanya Cinta Karna Allah

Cinta karna Allah...
Kata-kata itu yang pernah engkau ucapkan padaku...
Atas nama cinta ini, aku berharap hubungan kita diridhoiNya...
Atas nama cinta ini, hubungan kita akan selalu dijagaNya...
Atas nama cinta ini, ku berharap kita kan sampai pada tujuan kita...

Tapi nyatanya...
Semua berbeda...
Tak sejalan dengan apa yang ku pikirkan...
Masalah berdatangan...
Hati berantakan...
Hidup terasa tak ada gunanya...

Ahh... apa ini yang dinamakan cinta karena Allah??
Apa sebenarnya maksud mencintai seorang hamba karna Allah??
Kenapa Allah tidak mengizinkanku tuk mengecap cinta lebih lama??
Cinta seperti apa sih yang diridhoiNya??

Bukannya kami adalah hamba yang selalu bersujud padaNya
Bukankah kami takkan terjerumus pada maksiat karna selalu mengingatNya
Bukankah aku mencinta dia dilandasi karna cinta kepadaNya
Tapi mengapa Allah mengizinkanku tuk mengecap cinta hanya sementara
Mengapa Allah tidak menyatukan kami hingga harapan kami terwujud
Apakah cintaku selama ini salah???...

Sahabatku....
Selama ini kamu salah memaknai cinta...
Cinta itu tetap bertentangan dengan agama...
Cinta itu tidak diridhoiNya...
Bukan itu yang namanya cinta karna Allah...bukan...bukan itu...

Tapi...
Bukankah cinta karna Allah itu....
Mengerti akan kelebihannya, memahami dan menerima kekurangannya??
Ya... itu memang cinta karna Allah....
Bukankah cinta karena Allah itu....
Aku melihatnya tidak dari fisik tapi dari akhlak dan agamanya??
Ya... itu memang cinta karna Allah...

Lantas...apa yang salah dengan cintaku??
Cintamu tidak salah, karena cinta itu adalah fitrahNya
Namun yang salah adalah cara kalian menempatkan cinta itu

Jika kalian saling mencintai karena Allah
Kalian takkan saling mengajak dalam hubungan yang salah
Takkan saling mengajak mendekati maksiat
Takkan mengumbar kata-kata cinta
Tapi akan menyimpan cinta kalian dihati
Hanya Allah-lah yang tau akan cintamu

Jika dia mencintaimu karna Allah
Dia takkan mengajakmu pacaran
Akan tetapi sudah berpikir kearah pernikahan
Jika dia memang mencintaimu
Maka dia kan melamarmu
Atau dia mencintaimu dalam diam
Tidak mengganggu penjagaan hatimu
Barulah cinta kalian itu sempurna, cinta karena Allah

Astagfirullah...
Maafkan aku cinta...
Selama ini aku ikut serta mengajakmu kejalan yang salah
Selama ini aku membuat kita masuk dalam linangan dosa
Selama ini kita melakukan hal yang sia-sia
Maafkan aku cinta... maafkan aku...
Maafkan juga atas kurangnya pengetahuanku...
Maafkan atas salah dan khilafku...

Cinta...
Kini kusadari bahwa semua itu salah
Maafkanlah sgala khilaf yang telah kita lewati
Kita memang harus berpisah
Tuk kembali harungi hidup dalam Ridho Ilahi
Dan bila kita memang ditakdirkan untuk hidup bersama
Pastilah Allah akan menyatukan kita









Maaf tuk Berpisah

Beberapa hari yang lewat aku dengar lagu Maaf tuk berpisah, sebuah lagu dari group tashiru.... mendengar lagu ini, aku jadi teringat dengan kisah temanku yang hampir mirip dengan lagu ini...  jadi saya putuskan untuk menceritakan kepada sahabat2 MC DLC semua...

Semua nama dalam tokoh ini bukan nama sebenarnya, maaf bila saya kurang bisa mengemas cerita ini agar lebih menarik, tapi semoga dari cerita ini ada hikmah yang terpetik oleh sahabat-sahabat semuanya....
~~~~~~~~~~~~❤❤❤❤❤❤❤❤❤~~~~~~~~~~~~

Hmmm... sudah lama aku tidak melihat sahabatku hana, gimana kabarnya ya sekarang?? .... kangen juga bercanda dengannya...ya...lebih baik aku datang aja kerumahnya, sudah lama ngak ada cerita2 dengannya....

Siang itu juga aku berangkat dengan langkah semangat 45 pergi kerumahnya, naik satu angkot pindah keangkot yang lainnya. 30 menit kemudian barulah aku tiba di halaman rumahnya.

Assalamu’alaikum.... assalamu’alaikum...
Wa’alaikumsalam... terdengar suara langkah dan pintu pun terbuka...
Eh Dhia...pa kabar? Cari Hana ya?
Alhamdulillah sehat bu... ibu gimana kabarnya sekarang?? Hananya ada bu??
Alhamdulillah... ibu juga sehat... Hana lagi dikamarnya, langsung aja masuk kekamarnya...
Eh iya bu... makasih ya bu...

Assalamualaikum ( sambil melangkah masuk kekamarnya)...

Wa’alaikumsalam...eh Dhia ayo masuk, duduk sini...

Hmmm... kamu kenapa Han, kelihatannya kurang ceria gitu... biasanya kalau aku datang, kamu selalu menyambutku dengan ceria... Apa kamu ada masalah???

Huff... Yah, begitulah ya... akhir2 ini aku sedang ada masalah...

Masalah apa?? Cerita dunk, sapa tau aku bisa bantu... aku kan sahabat terbaikmu (hehehe...narsis amat aku nih)

Hana menatapku, lalu ia berkata, kamu janji ya... ngak bakal kasih tau sama sapa pun...

Yap, ok bos... aku janji...

aku sedang ada masalah dengan pacarku...

Ha??? pacar??? sejak kapan kamu punya pacar??? bukannya kamu begitu teguh dengan prinsipmu, takkan ada yang namanya pacaran sebelum nikah?? sudah beberapa orang yang coba mendekatimu, kamu selalu berusaha menghindar... lho, sekarang kamu bilang kamu punya pacar...

hmmm... ya gitulah... aku ngak tau, dengannya aku cepat merasa dekat, dgnnya aku merasakan perasaan yang lebih, beda dengan orang2 yang aku kenal sebelumnya... biasanya aku susah untuk dekat dengan lawan jenis, biasanya membutuhkan waktu beberapa bulan agar merasa akrab tapi dengannya hanya dalam waktu seminggu aku sudah merasa begitu mengenalnya. Awalnya aku akan menganggap dia sebagai sahabat tapi semakin lama aku merasakan ketenangan di dekatnya dan perasaan itupun muncul.  Biasanya aku bisa menghilangkan perasaan sukaku pada lawan jenis, tp padanya semakin lama perasaan itu semakin besar...

Aah...aku bingung Dhia.. aku bingung... kenapa ini terjadi padaku... doa yang ku panjatkan selama ini mungkin juga salah... aku berdoa jika ia jodohku, maka buatlah kami semakin dekat, jika tidak maka hilangkan rasa ini secepatnya... Allah memang mengabulkan permintaanku, Dia membuat kami semakin dekat...hingga suatu hari ia pun menyatakan bahwa ia sayang padaku dan ingin ta'aruf denganku... Aku pun bingung, apa aku menerimanya atau tidak, aku bingung bila ku terima apakah ini terlalu cepat, tapi bila ku menolak, sapa tau memang dialah jodohku...   Aku mengingat sifat2nya, trus aku berpikir mungkin bila hanya sekedar ta'aruf hubungan ini tidak masalah... aku merasa dia takkan menjerumuskanku kedalam tindakan maksiat karena ia seseorang yang rajin beribadah. Akhirnya akupun menerimanya...

trus bagaimana hubunganmu dengannya selama mengenal dia?? tanyaku.

Awalnya, kami hanya biasa2 saja... kami bisa saling mengendalikan perasaan,,, namun lama kelamaan,,, awalnya niat kami hanya ta’aruf namun telah menjurus pada pacaran... kami saling mengumbar kata2 mesra, apa lagi aku lebih sering menyatakannya perasaanku padanya... hingga bulan kedua semuanya terasa begitu menyenangkan, walau sedikit ada masalah tapi kami bisa mengatasinya... kami pun sudah berangan-angan untuk melanjutkan hubungan kami kejenjang pernikahan setelah perkuliahan kami benar-benar selesai.

Namun, pada waktu memasuki bulan ketiga, aku merasa dia berubah, dia mulai cuek padaku, dia jarang menghubungiku... perasaanku pun tak karuan, akhirnya aku bertanya apa yang terjadi dengannya... inilah awal masalah berat itu, kami bertengkar, katanya dia sedang labil dengan perasaannya, tapi dia tetap berusaha menyakinkan hubungan kita akan baik2 saja.

Akupun berusaha meyakinkan hatiku bahwa semua ini akan berlalu, semuanya akan kembali seperti dulu. Agar hubungan kami membaik lagi, yang biasanya kami hanya bicara lewat telp dan sms sekarang aku pergi ke tempat kerjanya, untuk kesekian kalinya aku meruntuhkan pendirianku... Yang biasanya aku jarang menelponnya sekarang sering menghubunginya, yang biasanya aku tak ingin bertemu karena aku tau itu tak baik, sekarang aku mengunjungi tempat kerjanya. Tapi semua yang ku lakukan tetap sia2,,, aku pun kembali bertanya padanya, sebenarnya gimana perasaannya padaku? untuk kesekian kali dia menyakinkanku, dia berharap aku tidak memikirkan masalah ini.

(Kemudian Hana bermenung dan ku lihat ia berusaha menahan air matanya).

Han...Kamu ngak papa kan?? tanyaku.

ya.. ngak papa... Hanapun melanjutkan ceritanya.
Tapi semakin lama perasaanku semakin tak karuan... hingga ku putuskan untuk meminta sebuah kepastian padanya. Akhirnya diapun bicara... dia ingin menjauh dariku, tapi tetap tak ada niat untuk merusak hubungan kami, dia masih labil, perasaan pertama kali bertemu denganku sekarang sudah berubah, dan aku tak bisa bertanya kenapa? karena dia bilang jangan tanya kenapa karna dia bingung entah apa yang terjadi padanya...

ahhh... aku sangat bingung Dhia, kenapa semua ini terjadi?? sakit betul rasanya...aku tak tau lagi mau berbuat apa, semuanya begitu menyakitkanku dan membingungkan. Begitu mudahnya perasaan itu hilang padanya, kadang aku merasa perasaan ini dipermainkan olehnya. Ingin rasanya aku membencinya tapi aku tak bisa.

Setelah kejadian itu aku selalu berpikir apa yang salah dengan diriku, apa yang salah dengan hubungan ini... namun semakin lama aku pun sadar bahwa inilah jalan terbaik buatku... aku mengira Allah tak adil denganku, Allah tidak sayang denganku, padahal inilah bukti kasih sayang Allah sesungguhnya... Dia telah menyadarkanku bahwa selama ini aku telah larut dalam linangan dosa yang ku buat sendiri... Allah menginginkan aku kembali kejalanNya... aku sangat bersyukur atas kejadian itu...

Kemaren aku tekadkan diri mengirim pesan untuk yang terakhir kalinya... ku putuskan untuk mengakhiri hubungan kami, walaupun sebenarnya masih ada jalan agar kami memperbaiki hubungan itu, tapi aku tak ingin lagi bermaksiat dari Allah...

Trus bagaimana dengan cintamu? Apa kamu masih mencintainya? Tanyaku.

(Hanapun kembali menitikkan air mata) Aku masih mencintainya Dhia... Karna aku mencintainya karna Allah ku putuskan untuk menjauh darinya... ku tak ingin kami semakin larut dalam dosa...

Hmmm... kalau boleh tau sapa sih laki-laki yang kita bicarakan dari tadi?? Tanyaku.

mmmm... kamu sudah mengenalnya... dia bang Farhan....

Haa??? Bang Farhan, ikhwan yang kita kenal beberapa bulan lalu waktu ada acara kampus... jawabku.

Iya dia...

Ya udah, sabar ya Han... semoga Allah selalu memberikan jalan terbaik untukmu...

Aamiin... Makasih ya Dhia...makasih juga kamu tlah dengar curhatku...

Beberapa hari kemudia aku bertemu dengan bang Farhan di kampus... ku putuskan untuk menyapanya dan bertanya tentang masalah dia dan Hana...

Subhanallah... ternyata mereka saling mencintai karna Allah... bang Farhan ingin menjauh dari Hana karna ia merasa  hubungannya dengan Hana sudah bertentangan dengan agama tapi dia ragu untuk membicarakannya pada Hana apa yang sebenarnya terjadi padanya, dia bingung mau bicara apa, bang Farhan bingung nanti akan menyakitkan hati Hana dan dia pun tak ingin Hana terlalu berharap akan hubungan mereka. Sedangkan Hana mengambil keputusan menjauh dari bang Farhan dengan alasan yang sama dan itulah jalan yang terbaik bagi mereka. Bang Farhan merasa bersyukur atas keputusan Hana. Sekarang saya menyerahkan urusan kami pada Allah, Semoga kami masih bisa dipertemukan kembali dalam ikatan suci (itu ucapnya).

 Bang Farhan memintaku untuk merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dan dari bang Farhanlah aku mengetahui sedikit isi surat dari Hana, Hana mengucapkan terima kasih atas keputusan yang diambil bang Farhan untuk menjauh darinya dan meminta maaf atas kekhilafan yang pernah terjadi. Hana mengatakan ingin kembali pada pendirian awalnya, dan jika memang Allah menakdirkan mereka berjodoh maka Allah jualah yang akan mempersatukan mereka kembali, namun jika tidak maka Allah akan memberikan yang terbaik untuk mereka.

Dalam hati ku berkata, sungguh indahnya cinta mereka... mencintai karena Allah dan berpisah karena Allah...mereka saling menyadari akan kesalahan mereka selama ini, mereka putuskan untuk berpisah karna Allah... semoga Allah mengampuni kekhilafan yang telah kalian perbuat. semoga kalian dipertemukan kembali dalam ikatan yang indah, sebuah maghligai suci pernikahan... aamiin...

~~~~~~~~
Fitrah manusia untuk mencintai dan dicintai dikaruniakan Allah Subhanahu wata’ala bagi setiap manusia. Fitrah manusia untuk saling merindui, berkasih sayang, merasakan sentuhan, .. dsbnya juga adalah fitrah manusia yang telah Allah tetapkan dan mesti dipenuhi. Tetapi penyikapan dan pemenuhan fitrah tadi, seharusnyalah dalam koridor keimanan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Itulah kenapa ketika kita mengetahui bahwa Islam memberi batasan-batasan yang ketat dalam kaitannya dengan cinta pra nikah ini, kita berusaha untuk memenuhinya, karena inilah bentuk cinta Allah Subhanahu wata’ala yang sangat mengetahui tentang karakter ciptaanNya dari ciptaanNya itu sendiri.

Betapa banyak mereka yang pada awalnya memiliki niat untuk perkenalan yang baik, tetapi tidak/ kurang memiliki ilmu akan hal itu akhirnya jatuh kepada perkara yang bertentangan dengan agama.
Pacaran sejatinya tidak dikenal didalam Islam. Dan untuk menikah, pacaran termasuk jenis ta’aruf(perkenalan) yang tidak baik, karena didalamnya terdapat banyak hal yang malah membuka berbagai macam pintu zina. Perkenalan yang baik(ta’aruf syar’iyah) adalah perkenalan yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan RasulNya.

Lantas bagaimana jika sudah “terlanjur”? Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun segala dosa kecuali syirik. Bertobatlah dengan sebenar-benarnya taubat, tutup semua pintu yang dapat mengarahkan kita kepada perbuatan zina, jika pintu itu adalah pintu pacaran, maka jangan berpacaran. Karena apa yang selama ini kamu anggap dengan hubungan yang “baik2 saja”, sesungguhnya hanyalah fatamorgana yang melenakan, yang menipu pandangan yang lemah, yang menjadikan pelakunya semakin tenggelam dalam lautan dosa, tidak ada tanggungjawab, runtuhnya izzah tidak hanya dirinya sendiri tapi juga keluarga, terlebih-lebih perbuatan dosa yang dilakukan itu dapat mengundang murka Allah SWT, na’udzubillah.
************
Aku mencintaimu karna Allah, maka ku putuskan untuk menjauh darimu...

Minggu, 16 Januari 2011

~❤~ Wahai aku ~❤~

Wahai aku...
Sadarkah dirimu akan sisa waktumu...
Sadarkah dirimu hidup ini hanya sementara...
Sadarkah dirimu masih ada tempat kembali nanti...
Sadarkah dirimu bekal apa yang akan kamu bawa nanti...

Wahai aku...
Ingatkah dirimu akan kejadianmu
Ingatkah dirimu tercipta dari tanah liat dan lumpur yang hitam
Ingatkah dirimu bahwa engkau terbentuk  karna proses yang luar biasa dari Yang Maha Pencipta
Ingatkah dirimu siapa yang memberikan ruh pada jasadmu sehingga kamu bisa menggerakkan tubuhmu sesuka hatimu

Wahai aku...
Tak sadarkah kau akan hidupmu
Kematian akan selalu mengintaimu
Yang akan memisahkan ruh dan nyawamu
Takkan ada tempat bersembunyi untukmu


Wahai aku...
Bilakah engkau sadar akan hadirmu
Yang sementara dibumi ini
Akhiratlah tempat engkau kembali
Apakah bekal yang akan engkau bawa nanti???

Wahai aku...
Mengapa kau mengekalkan hidupmu
Dalam kesenangan yang sia-sia
Berjalan tanpa aturan
Menganggap diri bahwa engkaulah yang terhebat

Wahai aku...
Ingatkah engkau akan sumpahmu sebagai hamba
Diturunkan kebumi untuk beribadah padaNya
Mematuhi seluruh perintahNya
Dan menjauhi seluruh laranganNya

Wahai aku...
Sadarlah engkau sebelum terlambat
Ajal tak pandang waktu menyapa
Apakah yang akan engkau bawa
Jika waktunya tiba hari perhitungan

Wahai aku...
Kembalilah pada tujuanmu
Sembahlah Tuhanmu
Taatlah kepadaNya
Jalani agama yang lurus
Untuk mencapai keridhoanNya

Wahai aku...
Semua yang kau lakukan untukNya takkan sia-sia
Diakhirat nanti engkau akan kekal bahagia
Mengecap nikmat yang tiada tara
Disanalah engkau akan memuaskan kekekalanmu, bukan didunia ini