muhasabah

dibawah langit

Assalamu'alaikum

Label

Jumat, 04 Februari 2011

Mensyukuri Nikmat Allah

Syukur Alhamdulillah, marilah kita panjatkan kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat yang sangat luar biasa berupa nikmat iman, nikmat sehat, nikmat umur, nikmat kesempatan, serta nikmat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu, sehingga kita dapat dipertemukan dalam ikatan ukhuwah di MC DLC ini.

Syukur Nikmat...
Begitu sering kita mendengar kata-kata ini. Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, dan sekiranya manusia bermaksud menghitungnya, niscaya ia tidak akan mampu melakukannya. Jika kenikmatan sangat banyak dan manusia tidak akan mampu menghitungnya, lalu bagaimana kita mensyukuri seluruhnya?

Syukur dan nikmat berasal dari bahasa Arab. Kata syukur berterima kasih, sedangkan kata nikmat artinya Pemberian, Anugrah, Enak, Lezat.
Mensyukuri nikmat Allah SWT, maksudnya berterima kasih kepada-Nya dengan cara mengingat atau menyebut nikmat dan mengagungkan-Nya.

Nikmat Allah terhadap umat manusia itu sangat banyak dan beraneka ragam jenisnya, misalnya : ada yang bersifat jasmani, ada yang bersifat rohani, ada yang terdapat dalam diri manusia sendiri, ada yang terdapat di luar diri manusia.
Nikmat yang bersifat jasmani antara lain bentuk tubuh manusia yang paling baik diantara makhluk lainnya, panca indra, anggota badan, bumi langit, makanan dan minuman, nikmat yang bersifat rohani antara lain : roh, akal, perasaan, bahasa, ilmu pengetahuan, iman dan islam. Dan masih banyak nikmat-nikmat lain yang diberikan oleh Allah kepada kita semua.

Seluruh nikmat yang kita rasakan ini datangnya dari Allah subhanahu wata'ala.  Allah berfirman :

                                                                                                                          وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
 "Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah lah (datangnya)." (An Nahl: 53)

                                                                              وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. (QS. Ibrahim : 34)

Karena itu, tepatlah jika Allah SWT, mewajibkan kepada setiap individu manusia untuk bersyukur kepada-Nya, Allah berfirman :
                                                                                                   فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepada-Mu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS. Al- Baqarah :152).
                                                                                                      وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
"Dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja beribadah." (An Nahl: 114)

                                                                                                                               وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
 “Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutNya (dengan bersyukur)”.(Ad-Dhuha:11)


Sudah seharusnya kita sebagai hamba bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Mulai dalam kandungan ibu sampai menjadi manusia yang bisa berpikir hingga kembali pada-Nya adalah nikmat Allah yang tidak terhingga. Mulai dari kesenangan hidup, rezeki, dan kasih sayangnya yang tak pernah putus.

                                                                   وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
 "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS Ibrahim : 7).

 Akankah kita mengingkari, menentang, melanggar, dan tidak mau mengabdikan diri kepada-Nya? Dari ayat di atas, kita dapat menarik hikmah bahwa bersyukur adalah sebuah jalan untuk mencari keridhaan-Nya. Sebaliknya, bila manusia mengingkari nikmat-Nya, bersiaplah menerima azab yang sangat pedih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan anugerah yang diberikan Allah. Kita mesti bersyukur saat memperoleh kesenangan dan bersabar saat tertimpa musibah.
Rasulullah SAW bersabda, ''Perkara orang Mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya, semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang Mukmin. Bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.'' (HR Muslim).

Sesungguhnya, nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita sangat banyak jumlahnya dan tak terhingga. Semua yang diberikan itu, sekiranya  suatu saat Allah menagihnya, kita tidak akan sanggup untuk membayarnya. Sebab, nikmat itu diberikannya setiap saat dan tak pernah berhenti, mulai dari bangun tidur hingga kita tertidur lagi. Alangkah pengasih dan penyayangnya Allah kepada kita, umat manusia.

Bersyukur atas nikmat adalah bukti bagi lurusnya keimanan dalam jiwa manusia. Dan orang yang bersyukur kepada Allah akan selalu merasakan muroqobatullah (Kebersamaan Allah) dalam mendayagunakan kenikmatan-Nya, dengan tidak disertai pengingkaran, perasaan menang dan unggul atas makhluk lainnya, dan penyalahgunaan nikmat.

Bersyukur mrnjadikan kita selalu ingat bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah milik-Nya dan kita wajib memberikan apresiasi sebagai wujud rasa syukur kita. Bersyukur juga membuat manusia selalu menyadari bahwa segala sesuatu yang manusia upayakan hanya akan terjadi jikalau Allah SWT menghendaki. Oleh karena itu menusia akan selalu bertaqarrub atau mendekatkan diri dan bertawakal atau berserah diri kepada-Nya.

Dengan Apa Kita Syukur Nikmat?

Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah swt. Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Bersyukur dengan hati :
a. Meyakini kebenaran Islam dan seluruh ajarannya, termasuk kebenaran rukun iman, rukun islam, dan ajaran tentang ihsan.
b. Bercita-cita ingin memperoleh ridho Allah, bahagia dunia dan akhirat.
c. Senantiasa mengingat Allah (zikrullah) dan juga mengingat mati
d. Mencintai Allah dan Rasul-Nya, jauh melebihi dari selain keduanya.
e. Membersihkan diri dari syirik, nifak, dan kecenderungan untuk berbuat dosa.
f. Memelihara hati agar tidak memiliki sifat-sifat tercela, seperti sombong, ria, sum’ah, buruk sangka, putus asa, dendam, keluh kesah, kikir, dan lain-lain.

2. Bersyukur dengan ucapan :
 a. Mengikrarkan dua kalimat syahadat, yakni syahadat Tauhid dan syahadat Rasul.
 b. Membiasakan diri membaca (tadarus) Al-Quran.
 c. Berdakwah, yakni melaksanakan amar ma’ruf (menyuruh orang berbuat baik) dan nahi munkar(melarang orang berbuat jahat).
 d. Senantiasa mengucapkan lafal-lafal zikir, seperti kalimat tauhid, tasbih, tahmid, takbir, ta’awuds, istigfar, dan disertai dengan banyak berdoa kepada Allah.
 e. Mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
 f. Memelihara diri untuk tidak berkata-kata yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, serta berusaha agar senantiasa berkata-kata yang bermanfaat, sopan dan ramah tamah.
 g. enantiasa berdoa kepada Allah untuk mendoakan diri sendiri, keluarga, kerabat, musuh, dan lain sebagainya.

 3. Bersyukur dengan perbuatan :
 a. Disiplin melakukan salat lima waktu dan puasa Ramadhan.
 b. Mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji jika mampu, serta memenuhi syarat-syarat wajibnya.
 c. Berjihad membela Islam dan kaum muslimin bila diperlukan.
 d. Menuntut ilmu yang bermanfaat baik bagi dunia maupun akhirat.
 e. Melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam hidup bermasyarakat, seperti berbakti kepada orang tua, dan tolong-menolong dalam kebaikan.
 f. Mencari rezeki dengan cara yang halal dan membelanjakannya untuk hal-hal yang bermanfaat.
 g. Memelihara diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Islam.

 4. Bersyukur dengan harta :
 a. Mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan ajaran Islam.
 b. Membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan finansial
 c. Membangun mushala, masjid, sekolah, jembatan, dan sebagainya
 d. Membangun rumah sakit Islam dan membiayai pemanfaatannya bagi masyarakat.
 Dll

 Wujud syukur memang beragam. Namun semuanya tetap kembali pada satu pemahaman dan keyakinan dasar bahwa “apa yang ada dalam diri kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya serta kelak akan kita pertanggung jawabkan di hadapan-Nya”. Belajarlah untuk menjadi orang yang amanah terhadap semua nikmat-Nya.

 ”Wahai Tuhanku, bimbinglah aku untuk selalu bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan kepadaku ,juga kepada kedua orang tuaku dan agar aku melakukan amal yang Engkau ridloi, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang saleh.”


                                                                                                                                     فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman : 13)





Rabu, 02 Februari 2011

Ku ingin Meraihmu



Aku hanyalah manusia biasa
Aku bukanlah manusia yang memiliki harta yang melimpah
Aku bukanlah manusia yang memiliki kedudukan yang tinggi
Aku bukanlah manusia yang berilmu luas
Tapi aku hanyalah manusia biasa

Aku hanyalah orang biasa
Yang mencoba mencari ilmu
Yang berusaha menjadi terbaik bagi diriku
Dan berusaha berguna bagi orang lain

Ya Allah....
Engkau memberikan kesempatan yang luar biasa
Kepada manusia yang ingin mendekatkan diri padaMu
Yang tak dapat dibeli dengan harta
Yang tak dapat diangkat dengan tahta
Yang tak dapat diraih dengan garis nasab saja

Derajat Taqwa ...
Ku coba merengkuhnya dengan belajar dari siapa, kapan dan dimana saja
Ku coba mendapatkannya dengan ikhlash dalam tiap langkah dan ibadah
Ku coba meraihnya dengan menghidupkan hati..., berbagi kepada sesama
Ku coba menggapainya dengan mengamalkan Alquran dan Sunnah

Dengan kesempatan itu ... Kunyalakan kembali lilin harapanku
Dengan kesempatan itu ... Kusiapkan generasi yang lebih baik dariku
Dengan kesempatan itu ... Ku berharap semakin dekat dengan-Mu
Dengan kesempatan itu ... Aku senantiasa kuat dalam gelisah dan resahku

Ya Allah...aku cinta pada-Mu...

Kuatkan hati ini dengan cinta,
Jernihkan jiwa ini dengan kerinduan,
Zahirkan perbuatan ini dengan ketaatan,
Bentengkan nafsu ini pada ketakutan...
Pada Mu, ya Ilahi.

Teguhkanlah iman ku,
Bimbinglah ilmu ku,
Mudahkan lah urusanku,
Dalam menghadapi ujian-Mu,ya Allah...
Tiada daya upaya melainkan dengan izin-Mu...
Bukakanlah hijab yang menghalangi,
dalam mengenali..makrifah pada Mu, ya Allah...
Agar diri ini..
Mencapai derajat taqwa, cinta dariMu...

Oleh Mu,diri ini hidup...
Oleh Mu,diri ini mendengar..
Oleh Mu,diri ini melihat..
Oleh Mu,diri ini bicara..
Oleh Mu,diri ini melangkah..
Supaya wajah ini dapat menghadap wajah redha Mu..
Tuhan bagi segala keindahan...
Segala puji bagi-Mu,ya Allah...
Harumkan lah cinta ini mewangi
Di sepanjang kehidupan fana ku...

Aku rindu..aku mengharap pertemuan dengan Mu,
Bersama dengan keredhaan Mu...

Memetik Buah Taqwa

Sangat bersyukur sekali kita semua dikaruniakan hadiah terindah dalam hidup kita yakni hidayah islam dan selalu berdoa untuk setia hingga akhir dalam pelukan hidayah Islam.

Kita sebagai mahluk yang hidupnya selalu menghajatkan taufiq serta hidayah dari Allah swthendaknya kita dalam hidup ini senantiasa bertaqwa kepada Allah swt. Yang berarti akan senantiasa mentaati perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-laranganya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwasanya dengan bertaqwa kepada Allah swt kita akan berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Dengan mematuhi Agama yang suci ini insyaallah hidup kita akan selamat dari tipu muslihat dunia.
Dengan mematuhi perintah-perintah agama kita akan dijauhkan dari segala kemunkaran, Insyaallah perjalanan hidup kita akan sampai kepada pantai yang kita idam-idamkan yaitu selamat di dunia dan selamat di akherat.

Apa artinya taqwa??
Takwa artinya Memelihara diri jangan sampai terperosok kepada suatu perbuatan yang tidak di ridhai oleh Allah. Memelihara segala perintahNya supaya dapat dijalankan. Memelihara anggota tubuh jangan terperosok ke tempat yang berlumpur atau berduri.

Sebab pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah, Abu Hurairah (ridha Allah untuk beliau), apa arti takwa ? Beliau berkata :"Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu ? " Orang itu menjawab : "Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi, atau aku mundur."Abu Hurairah menjawab:"Itulah dia takwa!" (Riwayat dari Ibnu Abid Dunya).

Oleh karena itu kita memohon ditunjuki jalan yang lurus, Tuhan memberikan pedoman kitab Al-Qur'an sebagai petunjuk dan menyuruh hati-hati dalam perjalanan, itulah takwa. Supaya jalan lurus bertemu dan jangan berbelok di tengah jalan.
Dalam takwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar dan lain-lain sebagainya. Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal shalih. Meskipun di satu-satu waktu ada juga diartikan dengan takut, tetapi terjadi yang demikian ialah pada susunan ayat yang cenderung kepada arti yang terbatas itu saja. Padahal arti takwa lebih mengumpul akan banyak hal. Bahkan dalam takwa terdapat juga berani memelihara hubungan dengan Tuhan, bukan saja karena takut, tetapi lebih lagi karena ada kesadaran diri, sebagai hamba.


Sifat atau tanda-tanda dari orang yang bertakwa itu:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُوْنَ
"(yaitu) Mereka yang beriman kepada yang ghaib, dan mereka yang mendirikan sembahyang, dan dari apa yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka dermakan. " (al-baqarah : 3)


Yang ghaib ialah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal dan hati. Maka yang pertama sekali ialah percaya kepada Allah, zat yang menciptakan sekalian alam, kemudian itu percaya akan adanya hari kemudian, yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut.

Iman yang berarti percaya , yaitu pengakuan hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah rnenjadi keyakinan hidup. Maka iman akan yang ghaib itulah tanda pertama atau syarat pertama dari takwa tadi.

Kita kaum Muslimin yang telah hidup empat belas abad sesudah wafatnya Rasulullah s.a.w dan keturunan-keturunan kita yang akan datang percaya akan adanya Rasulullah. Insya Allah, dengan demikian bertambah lagi keimanan kepada yang ghaib itu, karena kita tidak pernah melihat wajah beliau namun percaya akan adanya Rasulullah. Bagi kita beliau adalah ghaib. Kita hanya mendengar berita dan sejarah beliau atau bekas-bekas tempat beliau hidup di Mekkah, Itupun termasuk iman kepada yang ghaib. Maka tersebutlah pada sebuah hadits yang dirawikan oleh Imam Ahmad, ad-Darimi, alBaqawardi dan Ibnu Qani di dalam Majma' ush Shahabah, dan ikut juga merawikan Imam Bukhari di dalam Tarikhnya, dan At Thabarani dan al-Hakim, mereka meriwayatkan daripada Abi Jum'ah al-Anshari:

"Berkata dia (Abu Jum 'ah al-Anshari) : Aku bertanya ; ya Rasulullah ! Adakah suatu kaum yang lebih besarpahalanya daripada kami, padahal kami beriman kepada engkau dan kami mengikuti akan engkau ?Berkatalah beliau : Apalah akan halangannya bagi kamu (buat beriman kepadaku), sedang Rasulullah ada di hadapan kamu, dan datang kepada kamu wahyu (langsung) dari langit. Tetapi akan ada lagi suatu kaum yang akan datang sesudah kamu, datang kepada mereka Kitab Allah yang ditulis di antara dua Luh, maka merekapun beriman kepadaku dan mereka amalkan apa yang tersebut di dalamnya. Mereka itu adalah lebih besar pahalanya daripada kamu. "

Dan mengeluarkan pula  hadits dari Imam Ahmad, Ibnu Hibban dari Abu Said al-Khudri.

"Bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah s.a.w. Bahagialah bagi siapa yang melihat engkau dan beriman kepada engkau. Beliaupun menjawab: Bahagialah bagi siapa yang melihat aku dan beriman kepadaku; dan berbahagialah bagi siapa yang beriman kepadaku, padahal dia tidak melihat aku. "

Maka keimanan kepada yang ghaib (Allah dan RasulNya) dengan sendirinya kita menuruti segala ajarannya berupa mendirikan sholat, sebab hati kita akan dihadapkan kepada Allah yang diimaninya. Maka dengan kesukaan memberi, berderma, bersedekah, membantu dan menolong, imannya telah dibuktikannya pula kepada masyarakat.


Kepercayaan akan Hari Akhirat mengandung makna: Apa yang kita kerjakan di dunia ini adalah dengan tanggungjawab yang penuh. Bukan tanggungjawab kepada manusia, tetapi kepada Allah yang selalu melihat kita, walaupun kita sedang berada sendirian. Semuanya akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Kepercayaan kepada akhirat meyakinkan kita bahwa apapun peraturan atau susunan yang berlaku dalam alam dunia ini tidaklah akan kekal; semuanya bergantian, semuanya berputar, dan yang kekal hanyalah peraturan kekal dari Allah, sampai dunia itu sendiri hancur binasa. Setelah hancur alam yang ini; Allah akan menciptakan alam yang lain, dan manusia dipanggil buat hidup kembali di dalam alam yang baru dicipta itu dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal didunia. Surga untuk yang lebih beramal baiknya. Neraka untuk yang lebih berat amal jahatnya. Dan semuanya dilakukan dengan adil.


Setiap yang kita lakukan akan membuahkan hasil, seperti halnya juga dengan taqwa. Jika kita bertaqwa kepada Allah maka akan membuahkan hasil baik di dunia maupun diakhirat.


Buah taqwa di dunia

1.       Solusi dari setiap kesulitan dan mendapat rezki yang tidak disangka-sangka
          مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

2.       Mendapat kemudahan dalam setiap urusan
                                                                                                              وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."(Ath-Thalaq: 4)

3.       Dipermudah belajar ilmu yang bermanfaat
                                                                                                وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".(Al-Baqarah: 282)

4.       Pancaran sinar basirah
                           يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu". (Al-Anfal: 29)

5.       Dicintai Allah dan malaikatnya serta diterima dibumi.
                                                                                          بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
"(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa".(Ali Imran: 76)

6.       Mendapat pertolongan, bantuan serta petunjuk Allah
                                                                                                            وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
"Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa" (Al-Baqarah: 194)

7.       Mendapat berkah dari langit dan bumi
                                                                     وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ
"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (Al-‘Araf:96)

8.       Pandangan yang baik, dipuji serta dicintai manusia
                  أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ .الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ .لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat". (Yunus: 62-64)

9.       Dijaga dari tipu daya musuh
                               إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu".(Ali Imran:120)

10.   Terjaga dari memperoleh keturunan yang lemah
                                             وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar".(An-Nisa’:9)

11.   Diterima amalannya
                                                                                                                          إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
 "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al-Maidah: 27)

12.   Selamat dari azab dunia
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.وَنَجَّيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
"Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa".(Fushilat: 17-18)


Buah taqwa di akhirat

1.       Dihapus dosa-dosa dan dilipat gandakan pahalanya
                                                                                             وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
"dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya". (Ath-Thalaq: 5)

2.       Kemuliaan yang tinggi diatas seluruh makhluk pada hari kiamat
        زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ اتَّقَواْ فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas".(Al-Baqarah: 212)

3.       Mendapatkan syurga
                                                                                                 تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا
"Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa". (Maryam:63)

4.       Dimasukkan dalam syurga dengan berkendaraan
                                                                                                          يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا
"(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat" (Maryam:85)

5.       Tidak memasuki syurga pada tingkatan yang paling rendah
                                                                                                                هَذَا ذِكْرٌ وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْنَ مَآبٍ
"Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik"(Shaad: 49)

6.       Dikumpulkan disyurga
                   إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ .ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ آمِنِينَ .وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
 "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman".Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan". (Al-Hijr:45-47)

7.       Merasa gembira disyurga
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya".(Az-Zummar: 73)

Dengan penjelasan ayat-ayat diatas semoga membuat kita semakin bertambah ketaqwaan kita pada Allah. Ya Allah muliakanlah aku dengan taqwa kepadaMu.

Sumber: Sudahkah anda bertaqwa? oleh Syaikh Ahmad Farid dan tafsir surat albaqarah ayat 1-5 serta sumber lainnya.




Kamis, 27 Januari 2011

Memantapkan Cinta di Hati yang Terpilih

·Dulu... aku pernah melakukan ta’aruf, namun kandas ditengah jalan. Hal ini karena pasanganku merasa ragu...
Keraguan, biasanya datang karena merasa tidak cocok, merasa takut, takut untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, takut tidak bisa membahagiakan pasangan, takut karena merasa diri tidak sempurna, takut pasangan tidak menerima segala kekurangan, dan begitu banyak alasan lainnya.

Ya, begitulah kehidupan, dimasa ta’aruf (perkenalan) sudah sampai akhir, kini dua hati harus memutuskan dua pilihan, tangan terbuka atau tertutup. Bila tangan terbuka yang dipilih maka ikhtiar cinta membentangkan jalan lapang menuju pelaminan.  Jika pilihan itu tangan tertutup, jadikanlah perpisahan itu dengan bingkai yang baik.

Menjatuhkan pilihan merupakan hal yang menegangkan, kita di tuntut jeli mencermati bisikan jiwa yang menfatwakan bahwa itulah pasangan jiwa sejati. Namun bisikan itu teramat halus, telinga tak mampu untuk mendengarnya, namun pendengaran hatilah yang diminta untuk menajamkan perannya.

Betapa beratnya mengambil keputusan ketika ta’aruf hanya terhitung bulanan, minggu atau beberapa hari saja.  Sementara mahligai pernikahan itu akan berlangsung hingga akhir hayat lamanya.
Keputusan harus segera diambil, sementara modal dasar atau data-data pendukung sangatlah minim.  Apakah cukup dengan segala keterbatasan mengambil keputusan yang besar?

Mintalah pada Allah agar bisikan itu adalah keteguhan yang mantap. Hingga kedepannya tak ada lagi sedikitpun rasa sesal dengan resiko apapun dari sebuah pilihan. Kita tak perlu takut dengan resiko hari esok, tapi yang patut dikhawatirkan adalah keraguan saat memutuskan pilihan.

Jika resiko salah pilih terbentang dihadapan, kita masih bisa bangkit memperbaikinya dengan modal keyakinan sejak awal. Artinya masih ada harapan untuk merubah takdir ke arah yang cemerlang. Namun  bila diterkam ragu, apa yang bisa diperbuat? Tidak ada. Sebab segala yang dimulai dengan ragu, ujungnya adalah ketidakpuasan yang merusak jiwa. Oleh karena itu, lepaskan diri dari belenggu keraguan.

Pilihan "ya" atau "tidak" memiliki konsekuensi yang luar biasa, bila “ya” maka menjadikan dua insan bersatu lahir batin. Seiring itu pula dipundak masing-masing dipikul amanah selaku suami istri. Namun jika pilihan “tidak” maka akan memisahkan kedua insan tersebut. Dan alangkah baiknya berpisah secara baik seperti indahnya jumpa pertama.

Alangkah baiknya kita melibatkan Allah dalam menentukan pilihan. Panjatkan doa setelah sholat untuk memohon hidayah yang terang.
Allahumma inna nas aluka muujibaati rahmatika wa’azaaima maghfiratika wa salamah min kulli itsmin wal ghaniyyah min kulli birrin wal fauza bil jannah wannajata minannaar.
Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu kepastian mendapat rahmatMu, kemauan yang teguh terhadap ampunanMu, selamat dari dosa, memperoleh setiap kebaikan, berhasil mendapatkan syurga dan selamat dari api neraka.

Yang diminta adalah kepastian rahmat Allah berupa jodoh yang menggandeng kita sakinah dunia akhirat. Yang dimohon hanyalah kepastian agar kegamangan dan keraguan tidak merusak hati. Karna yang diminta rahmat jodoh menuju gerbang mulia agar mendapat ampunan dari segala dosa dan terhindar dari neraka. Dan yang diharapkan adalah rahmat yang membuka banyak pintu kebaikan dan syurga yang diberkahinya.

Kita tidak akan tau akan hari esok, oleh karena itu keputusan tepat memantapkan pilihan cinta hari ini merupakan gambaran cemerlang masa mendatang. Tiada guna merisaukan bagaimana hari esok, namun lebih bermanfaat meneguhkan hati sejak keputusan besar itu dijatuhkan.

Ya Allah, tidak ada keputusan yang benar kecuali atas petunjukMu, tidak ada keteguhan atas pilihan kecuali dari hidayahMu, dan tiada ketentraman kecuali keputusan ini berlandaskan atas cintaMu.
Berkahi dan redhoilah setiap denyut cinta di nadiku.






Ta'aruf Solusi Pengganti Pacaran

Taaruf bisa diartikan sebagai perkenalan. Namun dalam praktek sehari-hari ada yang menggunakan kata taaruf sebagai suatu proses sebelum ikhwan dan akhwat menjalani pernikahan. Dalam taaruf, mereka saling mengenalkan keadaan diri masing-masing, bila cocok bisa dilanjutkan ke proses khitbah dan bila tidak maka proses akan dihentikan. Mungkin seperti itu secara sederhananya, walaupun pada prakteknya bisa begitu rumit dan kompleks.

Pacaran adalah suatu hubungan dekat yang dibuat oleh 2 orang (biasanya lawan jenis) tanpa ada ikatan resmi. Biasanya pacaran dilakukan karena adanya rasa saling suka. Dalam pacaran kadang disertai aktivitas yang terlalu intim dan dilarang agama, namun ada juga yang masih bisa menjaga dirinya masing2. Dalam hubungan pacaran, bisa jadi ada rencana pernikahan, namun kebanyakan belum memikirkan ke arah pernikahan. Dan bagi yang memikirkan pernikahan pun ada yang mau nikah dalam waktu dekat dan ada yang masih lama rencana nikahnya. Namun, persepsi umum dari pacaran adalah aktivitas intim (kedekatan) yang dilakukan 2 orang yang masih belum resmi menjadi suamu istri. Kedekatan itu bisa kedekatan secara fisik dan bisa jadi kedekatan komunikasi.

PACARAN vs TAARUF

Nah, yang ingin saya soroti sekarang adalah ada orang-orang yang berniat ta’aruf namun dalam prakteknya mereka berbuat aktivitas seperti layaknya orang pacaran. Sehingga niat menikah pun menjadi tertunda gara-gara mereka sudah merasa dekat, dan mereka puas dengan kedekatan itu sehingga tidak jadi memikirkan ke arah pernikahan.

Adapun perbedaan pacaran dengan ta’aruf yaitu:
1. Tujuan
- taaruf     : mengenal calon istri/suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pernikahan.
- pacaran : mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pacaran, syukur-syukur bisa nikah dan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat.

2. Kapan dimulai
- ta’aruf    : saat calon suami dan calon istri sudah merasa bahwa menikah adalah suatu kebutuhan, dan sudah siap secara fisik, mental serta materi.
- pacaran : saat sudah diledek sama teman:"koq masih jomblo?", atau saat butuh temen curhat, atau saat taruhan dengan teman.

3. Pertemuan
- ta’aruf : pertemuan dilakukan sesuai dengan adab bertamu biasa, dirumah sang calon, atau ditempat pertemuan lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syari`ah Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, ngedate dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta`aruf. Dan frekunsi pertemuannya, lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.  

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dgn wanita kecuali bersama mahram.”

Hal itu krn tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga sebagaimana dlm hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir mk jangan sekali-kali dia berkhalwat dgn seorang wanita tanpa disertai mahram krn setan akan menyertai keduanya.”

Selama pertemuan pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan,kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta keinginan di masa depan. 
Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri.
Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. 
Adapun cara yang lebih syar’i untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.


- pacaran : pertemuan yang dilakukan hanya berdua saja, pagi boleh, siang oke, sore ayo, malam bisa, dini hari klo ngga ada yang komplain juga ngga apa-apa. Pertemuannya di rumah sang calon, kantor, mall, cafe, diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik dll. Frekuensi pertemuan lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu. Adapun yang dibicarakan cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol ngalur-ngidul, ketawa-ketiwi.


4. Lamanya
- ta’aruf : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?
- pacaran : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.

5. Saat tidak ada kecocokan saat proses
- ta’aruf : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan menyebut alasannya.
- pacaran : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan/tanpa menyebut alasannya.

Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup.






Senin, 24 Januari 2011

HANYA SATU NAMA





Sebuah nama hadir

Terukir dilubuk hatiku yang terdalam

Menyalakan terang dlm jiwa yg gelap

Mengalirkan kesejukan dlm kegersangan



Sebuah nama terukir dlm kalbu

Mengalir dalam setiap aliran darah

Meresap dlm jiwa raga

Membangkitkan getar2 hidup yg indah



Sebuah nama yg terindah

Terucap dalam bibir yang selalu merindu

Merindukan cinta, kasih dan sayangNya

Sebuah nama yang selalu tersimpan dihati

Hanya ada satu nama...... Allah Subhanahu wa Ta'ala

Tiada akan terhapus oleh yg lain

Hanya Engkaulah tujuan dalam hidupku
 

Tak Cukup Hanya Cinta

"Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?", sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.

"Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri", jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. "Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim", raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.

"Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu", tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. " Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol", jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.

"Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama", mbak Artha mulai bertutur. "Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah".
"Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?", tanyaku penasaran. "Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku sendiri"

"Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik", papar mbak Artha sambil tersenyum getir.

Aku perbaiki posisi dudukku, aku pikir ini pengalaman yang menarik. Rasa penasaran dan sedikit nggak percaya karena Mbak Artha yang aku kenal sekarang adalah tipikal wanita sholehah, berhijab rapi, tutur kata lembut, tilawahnya bagus dan smangatnya luar biasa. Benar-benar jauh dari profil yang di ceritakan tadi. Ternyata benar kata pepatah, bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Mungkin bertolak dari minimnya pengetahuan agama, akhirnya mbak Artha berusaha keras untuk meng-up grade diri. Dan subahanalloh hasilnya sungguh menakjubkan. Mbak Artha mekar laksana bunga yang sedang tumbuh di musim semi, tapi siapa sangka ternyata indahnya bunga itu tak lain karena kotoran-kotoran hewan yang menjadi pupuk disepanjang kehidupannya.

Rupanya harapan mbak Artha untuk bisa menimba ilmu agama bersama-sama sang suami tinggal impian. Mas Bimo yang diharapkan bisa menjadi katalisator dan penyemangat ternyata hanya jalan ditempat. Hapalan Juz Amma nya belum bertambah, tilawah Al Qur'an-nya masih belum ada perbaikan masih belum lancar. Sementara kesibukannya sebagai Brand Manager di salah satu perusahaan Telco milik asing, makin menyita waktu dan perhatiannya. Masih syukur bisa mengahabiskan weekend bersama Mbak Artha dan Raihan anak semata wayang mereka, kadang weekend pun mas Bimo harus ke kantor atau meeting dan lain-lain. Tidak ada waktu untuk menghadiri majelis taklim, tadarus bersama bahkan sholat berjama’ah pun nyaris tidak pernah mereka lakukan.

Aku jadi teringat khutbah pernikahanku dengan Mas Adi, waktu itu sang ustad berkata "Rumah tangga yang didalamnnya ditegakkan sholat berjam’ah antara anggota keluarga serta sering dikumandangkan ayat-ayat Allloh akan didapati kedamaian dan ketenangan didalamnya"
"Dhek....", suara mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Iya mbak, saya masih denger kok. Saya hanya berpikir ini semua bisa menjadi ladang amal buat mbak Artha", jawabku sigap supaya nggak terlihat kalau emang lagi ngelamun.

"Pada awalnya aku juga berpikir seperti itu dhek. Aku berharap Mas Bimo juga memiliki keinginan yang sama dengan ku untuk memperdalam pengetahuan kami terhadap Islam. Aku cukup gembira ketika mas Bimo menyambut ajakanku untuk sama-sama belajar. Namun dalam perjalanannya, smangat yang kami miliki berbeda. Mas Bimo seolah jalan ditempat. Sempat miris hati ini ketika suatu saat aku meminta beliau menjadi imam dalam sholat magrib. Bacaan suratnya masih yang itu-itu juga dan masih terbata-bata.Aku baru tau bahwa dia belum pernah khatam Qur’an. Harusnya kan suami itu imam dalam keluarga ya dhek?", mata mbak Artha mulai berkaca-kaca.

"Apa harapanku terlalu tinggi terhadap suamiku? Bukankah harusnya suami itu adalah Qowwam, pemimpin bagi istrinya. Lalu bagaimana jika sang pemimpin saja belum memiliki bekal yang cukup untuk menjadi seorang pemimpin?", suara mbak Artha mulai bergetar.

"Terkadang aku ingin sekali tadarus bersama suami, tapi itu semua nggak mungkin terjadi selama suamiku tidak mau belajar lagi membaca Al-qur'an. Aku juga merindukan sholat berjama’ah dimana suami menjadi imannya sementara kami istri dan anak menjadi makmumnya. Apa keinginanku ini berlebihan dhek?", tampak bulir bening mulai mengalir dipipi mbak Artha.

"Berbagai cara sudah ku coba, supaya Mas Bimo bersemangat memperbaiki diri terutama dalam hal ibadah. Tentunya dengan sangat hati-hati supaya tidak menyinggung perasaannya dan supaya tidak berkesan menggurui. Aku mulai rajin mengikuti kajian-kajian keislaman, mencoba sekuat tenaga untuk sholat 5 waktu tepat pada waktunya dan tilawah qur’an setelah sholat subuh. Bahkan berusaha bangun malam menunaikan tahajud serta menjalankan sholat dhuha dipagi hari. Semuanya itu kulakukan, dengan harapan mas Bimo pun akan menirunya. Aku berharap sekali dia terpacu dan semangat, melihat istrinya bersemangat", papar mbak Artha dengan suara yang agak tinggi.

"Tapi sampai detik ini semuanya belum membuahkan hasil. Aku seperti orang yang berjalan sendirian. Tertatih, jatuh bangun berusaha menggapai cinta Alloh. Aku butuh orang yang bisa membimbingku menuju surga. Dan harusnya orang itu adalah Mas Bimo, suami ku"
Kurangkul pundaknya, sambil berbisik "sabar ya mbak, mudah-mudahan semuai harapanmu akan segera terwujud". Mbak Artha tampak agak tenang dan mulai melanjutkan ceritanya.

"Dari segi materi materi apa yang Mas Bimo berikan sudah lebih dari cukup, overall Mas Bimo suami yang baik dan bertanggung jawab. Bahtera rumah tangga kami belum pernah diterpa badai besar, semuanya berjalan lancar. Sampai disuatu saat mbak mulai menyadari sepertinya bahtera kami telah kehilangan arah dan tujuan. Kami hanya mengikuti arus kehidupan yang smakin lama smakin membawa kami kearah yang tidak jelas. Kami sibuk dengan aktifitas kami masing-masing. Kehangatan, kemesraan, ungkapan sayang yang dulu paling aku kagumi dari Mas Bimo sedikit demi sedikit terkikis di telan waktu dan kesibukannya. Dan yang lebih parahnya lagi, unsur religi sama sekali tak pernah di sentuh Mas Bimo sebagai kepala keluarga. Fungsi qowam sebagai pemimpin dalam menggapai cinta hakiki dari Sang Pemilik Cinta, terabaikan. Mungkin karena memang bekalnya yang kurang. Sunguh, harapan menggapai sakinah dan mawaddah serta rahmah semakin hari kian jauh dari pandangan. Rumah tangga kami bagai tanpa ruh dan kering", suara mbak Artha mulai bergetar kembali.

Aku jadi speachless nggak tau musti berkata apa lagi. Ternyata ketenangan rumah tangga mbak Artha, menyimpan suatu bara yang setiap saat bisa membakar hangus semuanya. Hanya karena satu hal, yaitu alpanya sentuhan spritual dalam berumahtangga. Atau mungkin juga adanya ketidaksamaan visi atau tujuan saat awal menikah dulu. Bukankan tujuan kita menikah adalah ibadah untuk menyempurnakan setengah agama. Idealnya, setelah menikah keimanan, ibadah kita makin meningkat. Karena ada suami yang akan menjadi murobbi atau mentor bagi istri, atau kalaupun sebaliknya jika istri yang lebih berilmu tidaklah masalah jika istri yang menjadi mentor bagi suami. Yang penting tujuan menyempurnakan dien guna menggapai sakinah dan mawaddah melalui cinta dan rahmah makin hari makin terwujud. Mungkin itulah sebabnya mengapa kreteria agama lebih diutamakan daripada fisik, harta dan keturunan.

Ternyata cinta saja tak cukup untuk bekal menikah, begitupun dengan harta. Pernikahan merupakan hubungan secara emosional yang harus ditumbuhkan dengan sangat hati-hati, penuh kepedulian dan saling mengisi.Bahkan puncak kenikmatan sebuah pernikahan bukanlah dicapai melalui penyatuan fisik saja melainkan melalui penyatuan emosional dan spiritual. Pernikahan adalah sarana pembelajaran yang terus menerus. Baik untuk mempelajari karakter pasangan ataupun untuk meng upgrade diri masing-masing.

"Dhek Lia....", Mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Makasih ya dhek dah mau jadi kuping buat mbak", mbak Artha menggenggam tanganku sambil tersenyum. "Mbak yakin dhek Lia bisa dipercaya, do'akan supaya mbak diberikan jalan yang terbaik sama Alloh".
Aku pun tersenyum, "Insyaalloh mbak, makasih juga dah mau sharing masalah ini dengan saya. Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari cerita mbak. Saya masih harus banyak belajar soal kehidupan berumah tangga mbak. Jazakillah".

Tak terasa hampir 2 jam kami ngobrol di teras TPA. Kumandang adzan dhuhur, mengakhiri obrolan kami. Sambil menuju tempat wudhu mesjid untuk sholat dhuhur berja'maah kusempatkam mengirim sms ke mas Adi. "Mas aku kangen, kangen sholat bareng, kangen tadarus bareng cepet pulang ya Mas. Uhibbukafillahi Ta'ala" ***

Diambil dari  : http://www.bundanaila.co.cc/2007/01/tak-cukup-hanya-cinta.html

Keterangan : cerita ini hanya fiktif belaka. Tapi kasusnya bisa jadi banyak dialami oleh para istri. Sebagai seorang suami bukan hanya harus bertanggung jawab, setia dan banting tulang mati-matian bekerja demi keluarga.
Tapi perlu diingat juga, fungsi suami tidak hanya mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan materi tapi juga fungsi sebagai qowwam bagi istri dan anak-anak juga jangan sampai diabaikan.Justru malah saat sekarang, fungsi sebagai qowwam inilah yang banyak diabaikan oleh para suami. Mereka menganggap dengan mencari nafkah, banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga yang sifatnya materi sudah cukup. Sementara kebutuhan rohani dan spritual istri dan anak-anak terabaikan. Bukankah hal itu juga nanti menjadi salah satu hal yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.

Semoga bermanfaat........

~::~