muhasabah

dibawah langit

Assalamu'alaikum

Label

Senin, 19 November 2012

Saksikanlah...Bahwa Kami Anak Palestina



“Wahai Tuhan Kami!,
Tuangkanlah kesabaran diatas diri kami
Dan teguhkanlah pendirian kami
Serta tolonglah kami dari kaum kafir”. (Q.S. Al-Baqoroh ayat 250).
 “Wahai Tuhanku!,
Masukkanlah aku secara baik dan keluarkan lah aku secara baik (pula).
Dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong”. (Q.S. Al-isro’ ayat 80).
Itulah sepenggal doa yang kami panjatkan setiap hari...

Allahuakbar...Allahuakbar...Allahuakbar...
Seruan takbir kami kumandangkan
Ditengah-tengah kabut reruntuhan

Duhai engkau manusia yang dilaknati Allah
Engkau hadang kami dengan tank-tank baja
Sedangkan kami hadang engkau dengan membusung dada
Engkau hadang kami dengan hujanan bom dan senjata
Sedangkan kami hadang engkau dengan kepalan bebatuan

Jangan kira kami takut
Jangan kira kami lemah
Walau sungai merah mengalir disudut rumah
Walau puing-puing bangunan jadi tempat tinggal
Walau semua milik kami engkau rampas
Walau kami kehilangan seluruh anggota keluarga
Namun hati kami takkan bisa engkau jamah

Saksikanlah bahwa kami anak Palestina
Takkan takut melawan engkau manusia yang dilaknati Allah
Api Jihad fisabilillah telah membakar dalam tubuh kami
Karna syurga adalah impian yang kami nanti

Saksikanlah bahwa kami anak Palestina
Permainan kami bukanlah robot-robotan atau senjata mainan
Namun setidaknya bebatuan sebagai senjata dan nyawa sebagai taruhan
Kami tidak iri dengan anak-anak dinegara lain bermain  dengan gembira
Namun kami iri pada teman kami yang lebih dahulu berada di syurga

Saksikanlah bahwa kami anak Palestina
Yang tak takut kehilangan nyawa
Yang tak takut tubuh kami berkurang
Karna tubuh yang hilang akan menanti kami di syurga

Saksikanlah bahwa kami anak Palestina
Dan saksikanlah bahwa kami adalah muslim
Kami adalah mujahid muda yang pemberani
Syahid dijalan Allah impian kami
Dengan kalimatullah sebagai penyemangat kami

Tidakkah tergerak hatimu wahai kaum muslimin??
Kami anak-anak yang selalu diburu oleh kaum laknatullah
Kamilah incaran utama mereka,
Karena ayat-ayat Allah telah tertanam didada kami
Tidakkah engkau ingin menjadi mujahid seperti kami??
Sisingkanlah lengan bajumu dan ikutilah langkah kami
Jika engkau tak mampu, maka dermakanlah hartamu untuk kami
Namun jika engkau masih tak mampu, maka doakanlah kami
Semoga Allah merahmati setiap langkah kami

Bumi Allah_diary mcdlc_191112_Anak Palestina


Sahabat MCDLC semua, hari ini kita masih menyaksikan ketidakadilan terjadi di muka bumi ini.. Bagaimana saudara-saudara kita di Palestina sampai hari ini masih dijajah oleh Zionis Israel. Anak-anak ditembak, sarana dan fasilitas umum diblokir adalah sebagaian kecil kekejaman zionis belum lagi propaganda dan serangkaian aksi licik yahudi dan anteknya di seluruh dunia.

Saudaraku, penderitaan kita hari ini tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan mereka. Kesulitan mereka berlipat ganda lebih sulit dari kesulitan kita.. akankah kita masih kurang peduli dan apatis terhadap saudara seiman kita di Palestina? Kita, sesama muslim adalah saudara dan kita sesama muslim adalah satu tubuh.. Bantu saudara-saudara kita di Palestina walau hanya sepenggal doa.. Semoga Allah membuka mata hati kita untuk saudara kita di Palestina…,
aamiin kanlah doa dibawah ini dikoment atau didalam hatimu.

Ya Allah, Berikanlah keselamatan kepada penduduk Palestina dari serangan zionis Israel… Sabarkanlah hati mereka dalam menghadapi cobaan terberat ini… Berikanlah surga-Mu kepada mereka yang mati syahid atas serangan Israel…muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, tolonglah kaum Muslimin dan Mujahidin di Palestina. Teguhkanlah Iman mereka dan turunkanlah ketenteraman di dalam hati mereka dan satukanlah barisan mereka. 

Ya Rabb, Turunkanlah bala tentara langit-Mu untuk menghancurkan Israel… Mereka yang telah nyata-nyata mengabaikan keberadaan-Mu… Mereka telah menghancurkan masjid, rumah-Mu,,, maka hancurkanlah zionis Israel sebagaimana Engkau pernah menghantar burung-burung Ababil menghancurkan tentara bergajah musyrikin... Maka kami memohon kepadaMu Ya Allah.. Turunkanlah bantuanMu kali ini kepada orang-orang Islam di Palestina, binasakanlah kaum Yahudi dan pasukan Israel dan cerai-beraikanlah kesatuan mereka.

Ya Allah, Berikanlah kemenangan kepada pasukan-pasukan Muslim Palestina dalam menghadapi serangan Yahudi Israel, yang nyata-nyata telah membuat kerusakan di muka bumi-Mu ini Ya Allah… 

Ya Allah, Kabulkan doa kami ini….

Aamiin Ya Rabbal 'alamiin….

Selasa, 13 November 2012

Rindu Illahi



Duhai Allah,..Duhai yang mendetakkan jantung ini,. 
Duhai yang selalu memberikan makan kepada hamba-hambaMu ini, 
Duhai yang memberikan air yang sejuk di kala kami dahaga, 
Duhai yang mengaruniakan kantuk di kala kami lelah,..
Duhai yang selalu mengurus diri-diri kami di kala kami tertidur pulas,
Hanya Engkaulah Yang Maha Agung,..

Ya Allah, betapapun kami menghianatiMu setiap waktu tapi tiada suatu saat pun terputus Engkau memberi nikmat kepada kami,.
Ya Allah jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala kebusukan kami.
Penghapus bagi seluruh dosa-dosa kami, hari dimana Engkau singkapkan tabir dari hati kami, hari dimana Engkau gantikan segala kegelapan dengan cahaya di qolbu ini.

Ya Allah, kami ingin merasakan indahnya hidup dekat denganMu,
Kami ingin hari-hari yang tersisa ini menjadi hari-hari yang selalu akrab bersamaMu, kami lelah jauh dariMu ya Allah , kami tidak ingin terpuruk dan terhina karena tenggelam dalam kemaksiatan.,.
Berikan kepada kami kemudahan, untuk mengenalMu Ya Allah,.
Berikan kepada kami jalan untuk bisa mendekat kepadaMu,.
Jadikan kami menjadi orang-orang yang selalu merasakan, kehangatan, kasih sayangMu.

Ya Allah jadikan sujud kami menjadi sujud yang selalu nikmat Kepada-Mu,.
Jadikan shoadaqoh kami menjadi jalan yang membuat kami akrab denganMu,.
Jadikan amal-amal kami sebagai amal -amal yang tulus hanya karenaMu,. Ya Allah
jangan biarkan kesibukkan dunia membutakan hati kami,...
Jangan biarkan hawa nafsu, menjerumuskan kami,...
Jangan biarkan syahwat membuat kami terjerumus dalam maksiat,..
Jangan biarkan amarah membuat kami terhina dalam kedzoliman,..

Ya Allah, wahai yang Maha Mendengar, sayangilah kami Ya Allah.
Berkahi sisa umur kami ini,
Jadikan umur yang tersisa ini membawa maslahat bagi orang tua kami, bagi keluarga kami, bagi sebanyak-banyak-Nya umat Mu,
Rabbanaa aatinaa Fid dun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa 'adzaaban naar "Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan (pula) di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka"

Aamiin...Aamiin ya Rabbal'alamiin...

sumber: http://tiwiexs.tripod.com/id5.html

Jumat, 09 November 2012

Ketika Cinta…


Ketika Cinta…







Ketika cinta bertasbih
Bergetarlah seluruh rasa dalam jiwa
Indah dalam resonansi kasih sayang

Ketika cinta berdzikir
Berguncanglah alam
Syahdu dalam alunan nada cinta

Ketika ayat-ayat cinta terkumandangkan
Sirna sudah segala kebencian
Musnah sudah segala dendam
Jauh sudah segala dengki
Yang mengotori kebeningan cermin di kalbu

Lalu diatas sajadah cinta
Sujudlah seluruh raga
Menundukkan hati dan jiwa
Menanti datangnya masa…
Cinta berbuah surga!

http://arny86.multiply.com/journal/item/13/PUISI-KETIKA-CINTA?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
 

Sabtu, 03 November 2012

Muhasabah Seorang Wanita Sholehah

Muhasabah Seorang Wanita Sholehah



Jadilah seorang wanita sholihah,
Yang hatinya dibalut rasa taqwa kepada Allah,
Yang jiwanya penuh penghayatan terhadap Dien Allah,
Yang senantiasa haus dengan ibadah kepada Allah,
Yang senantiasa dahaga akan mengharap ridho Allah
Yang sholatnya adalah bekal dirinya,
Yang tidak pernah takut untuk berkata benar,
Yang tidak pernah gentar untuk melawan nafsu,
Yang senatiasa bersama para mujahiddah Allah

Jadilah seorang wanita sholihah
Yang menjaga tutur katanya,
Yang tidak bermegah dengan ilmu yang dimilikinya,
Yang tidak bermegah dengan harta dunia yang dicarinya,
Yang senatiasa berbuat kebajikan karena sifatnya yang penyayang,
Yang mempunyai ramai kawan dan tidak mempunyai musuh yang bersifat jahat

Jadilah seorang wanita sholihah
Yang menghormati suaminya.
Yang senantiasa berbakti kepada orang tua dan keluarga,
Yang bakal menjaga kerukunan rumah tangga,
Yang akan mendampingi suami dalam mendidik anak-anaknya untuk mendalami Islam,
Yang mengamalkan hidup penuh kesederhanaan,
Karena dunia baginya adalah rumah sementara menuju akhirat.

Jadilah seorang wanita sholihah,
Yang senatiasa bersedia untuk menjadi makmum imamnya
Yang hidup di bawah naungan al-Quran dan qona'ah
Yang tidak dikotori dengan perhiasan dunia
Yang menjaga matanya dari berbelanja,
Yang sujudnya penuh kesyukuran dengan rahmat Allah ke atasnya.

Jadilah seorang wanita sholihah
Yang selalu menjaga lisan, penyayang keluarga & suaminya,
Matanya kepenatan karena membaca al-Quran,
Suaranya lesu karena penat berzikir,
Tidurnya lelap dengan cahaya keimanan,
Bangunnya Subuh penuh kesigapan
Karena dia sadar betapa indahnya menjadi wanita sholihah melebihi perhiasan apapun didunia
Semakin sadar bertambah usianya bertambah kematangannya.

Jadilah seorang wanita sholihah
Yang senantiasa mengabdikan diri untuk menjadi mujahiddah Alloh
Yang baginya hidup di dunia adalah ladang akhirat,
Yang mana buah kehidupan itu perlu dipelihara dan dijaga,
Agar tumbuh putik tunas yang bakal menjaga dirinya di alam baqo'
Meneruskan perjuangan Islam sebelum hari kemudian.

Jadilah seorang wanita sholihah
Yang tidak terpesona dengan buaian dunia,
Karena dia mengimpikan syurga Alloh.

Semoga aku, kamu dan kita semua menjadi wanita sholehah yang senantiasa dirahmati-Nya... Aamiin...

Publikasi : 17-03-2004 KotaSantri.com


Copas dari: http://permatasyurga.blogspot.com/2009/02/muhasabah-seorang-wanita-sholehah.html

Jumat, 19 Oktober 2012

~ #~ Engkau “Allah” Cahaya Di Atas Cahaya ~#~


~ #~ Engkau “Allah” Cahaya Di Atas Cahaya ~#~







Sekuat apapun pohon itu tegak berdiri
Perlahan ia pun akan tumbang
Termakan oleh usia atau hempasan angin kencang
Yang menggoyahkan akar-akar di bawahnya …

Ketika saat itu terjadi
Tak pernah kita bayangkan
Betapa hidup ini adalah untuk sementara saja
Atas apapun yang telah menjadi kehendak-Nya …

Ya Allah, Kau cahaya di atas cahaya
Kau telah tentukan sebelumnya, apa yang belum kami rasakan
Ku coba tuk terus bertahan
Dalam menghadapi segala cobaan-cobaan-Mu …

Dan kami semua tahu
Kami hanyalah hamba-Mu
Yang penuh dengan segala kelemahan dan kekurangan
Sujud kami mengharap pertolongan dari-Mu …

Ya Allah, detik-detik yang Kau ciptakan dalam perjalanan kami
Kami yakin bahwa kan ada hikmah di balik semua itu
Semoga kami bisa bersabar dan berlindung pada-Mu
Tuk selalu mencari cinta, kasih dan ridho-Mu di dunia ini …

Aamiin Ya Rabbal'aalamiin...

Copas : http://www.penyair.com/puisi-dan-syair/puisi-untuk-tuhan-puisi-dan-syair/kau-%E2%80%9Callah%E2%80%9D-cahaya-di-atas-cahaya/
 

Senin, 15 Oktober 2012

>>>* Pencarian Setetes Air *<<<



(Puisi gambaran dari cerita Lelaki Yang Ingin Menangis)

Tlah ku tempuh hitam kelamnya kehidupan
Menyusuri liku dan terjalnya perjalanan
Jatuh dan tersungkur dalam kenistaan
Mengisahkan noda-noda yang tak termaafkan

Tlah ku dengar kabar suatu masa
Dari mulut seorang lelaki nan alim
Yang terdampar dalam sebuah ruangan
Mencoba menerangi sesudut kecil dihatiku
Membuat kerinduan tumbuh diladang nan gersang

Adakah jalan untuk bisa menebus semuanya?
Perjalanan tlah kuarungi setapak demi setapak
Berbagai daerahpun tlah kulalui
Namun tiada yang bisa membantu
Begitu keras dan membatukah hatiku ini?
Hingga tak ada sedikitpun celah yang dapat melunakkannya?

Pencarian setetes air
Yang keluar dari dalam diri
Yang sangat kuharapkan
Sebelum ajal menjelang

Hanya setetes air yang kudambakan
Kilauan bening yang keluar dari kelopak mata
Air mata pembersih dosa…
Mungkinkah kan kudapatkan??

Ajarilah aku cara menangis….

(MCDLC_200712_Pencarian Setetes Air)


Dosa dan maksiat akan meninggalkan noda dalam hati, semakin sering berbuat dosa dan maksiat maka noda yang menempel akan semakin banyak dan tebal, hingga akhirnya menutupi seluruh permukaan hati. Jika demikian adanya, bagaimana hati bisa menerima petunjuk dari Allah?. Jika hati telah tertutup oleh noda kemaksiatan, bagaimana bisa pertolongan Allah akan datang?

Jika hati sudah membatu, akan susah untuk disentuh oleh suatu kebenaran bahkan untuk mengeluarkan air matapun akan begitu susah. Oleh karena itu, bersihkanlah hati dari noda dosa dan maksiat sebelum terlambat, sebelum hati membatu dan sebelum ajal menjelang.

Bertoubatlah, sebab hati adalah tempat mendaratnya pertolongan Allah. Jika hati kita bersih maka pertolongan Allah akan mendarat dengan tepat. Kikislah dosa-dosa dengan istighfar dan sadarilah keberadaan kita dihadapan Allah

Minggu, 14 Oktober 2012

Lelaki yang Ingin Menangis


Lelaki yang Ingin Menangis





Alangkah ganjil cerita yang hendak aku uraikan padamu ini, Kawan. Kisah tentang seorang lelaki yang begitu ingin menangis. Sampai-sampai, ia rela mengembara dari tanah ke tanah, dari air ke air, dari rimba ke rimba, hanya untuk mencari cara agar ia bisa menangis. Oi, tidakkah itu terdengar ganjil di cupingmu? Ada seorang lelaki yang ingin menangis. Ya zaman, betapa aja
ib dunia ini. Dimana-mana lelaki tak ingin menangis. Lelaki ingin terlihat kuat, gagah, dan tentu saja jantan. Lalu, mengapa lelaki yang hendak aku ceritakan padamu ini ingin sekali menangis? Ai, simaklah dengan seksama ceritaku ini. Tentu bila telah tuntas, kau akan dapat jawabannya.

Pada mulanya, aku bertemu lelaki ini di suatu senja yang demikian kerontang. Petang yang terasa begitu meranggas dan udara terasa sangat panas. Ia tegak di sana, di tepi jembatan yang senyap. Tak ada siapa-siapa yang lewat. Pun kesiur angin yang menyapa. Pada wajahnya yang tergurat demikian keras, kutemukan balada tak berujung pangkal. Ah, wajah keruh itulah yang membuatku tertarik untuk bersuara.

“Bila kau hendak bunuh diri dan terjun dari jembatan ini, saya jamin kau tidak akan mati. Air di bawah sana tak cukup dalam, tak banyak bebatuan, dan jembatan ini pun tingginya hanya beberapa hasta. Bocah-bocah malah saban menjelang Asar, mandi dan meloncat dari jembatan ini.”

Ia mengerling, hanya sekilas pintas, kemudian melarikan kembali matanya jauh ke ujung sungai yang hilang dalam rimbun pepohonan di hilir sana. Aku senyap. Alangkah menyebalkannya, ia tak menanggapi apa yang kuucapkan. Oi, mungkinkah lelaki yang kusapa ini adalah orang gila? Seketika itu jua, kuamati lekat-lekat badannya. Kaos oblong warna coklat yang memudar, celana biru yang sudah dekil dan hilang warna, rambut panjang awut-awutan, kumis, jenggot, dan cabang demkian liar bersarang di wajah. Ai, mungkin benarlah dugaanku barusan. Lelaki ini adalah orang gila yang tersasar di kampung kami nan damai.

Ketika kusepakati pikiranku, lamat-lamat aku melangkah, berusaha melewatinya dan tentu saja akan gegas meninggalkannya. Namun, sebatang kalimat yang ia lontarkan telah menjenggal langkah yang baru saja kubuat.

“Aku ingin mencari seseorang yang bisa mengajariku menangis. Apa kau tahu? Mungkin ia ada di kampung ini.”

Allahurobbi, alangkah ajaib pernyataan lelaki itu. Beberapa detik aku senyap, walau sejatinya tawaku hendak menyembur demikian lepas. Benar saja. Mungkin, ia seorang lelaki gila. Mencari seseorang untuk mengajarinya menangis. Edan. Dari bayi saja manusia sudah bisa menangis, tak perlu diajari.

“Kau bukanlah orang pertama yang hendak tertawa mendengarnya. Mungkin kau adalah orang yang kesekian ratus, bahkan ribu, yang merasa demikian lucu perkataanku. Tapi, aku benar-benar mencari orang yang bisa mengajariku menangis.”

Dan, mata lelaki itu begitu lekat, begitu tajam menghujam ke kedalaman retinaku. Aku tercekat. Di matanya yang hitam, kutemukan kesungguhan dan kewarasan yang demikian terjaga. Ia tak bergurau atau pun tengah berkelakar. Seketika, aku dibaluri senyap yang demikian pekat. Entah, mendadak saja lidahku berubah bebal, kelu, dan terasa begitu kesat. Aku tak tahu harus bercakap apa.

“Me.., mengapa kau ingin belajar menangis? Bukankah setiap orang bisa menangis?” pertanyaan itu terluncur dengan terbata-bata dari lidahku. Entahlah, bagiku masih sangat ajaib apa yang lelaki itu katakan. Ia ingin mencari seseorang yang bisa mengajarinya menangis? Ahai, alangkah ganjilnya. Begitu geli terdengar di lidahku, hingga lidahku pun menggelinjang. Mati-matian kutahan tawa yang meronta.

“Akan panjang bila kukisahkan,” seketika mata lelaki itu redup, serupa bola lampu yang akan mati. Aku kian terbungkam sekaligus bertambah penasaran.

“Ceritakanlah, mungkin saja aku akan paham dan bisa menolongmu,” tak tahulah darimana kata-kata bijak itu berasal, ia terluncur begitu saja dari lidahku yang tadi mendadak bebal. Lelaki itu mengerlingkan matanya, menatapku beberapa lama, kemudian kembali melarikan retinanya ke arah liukan air sungai yang menari dengan gemulai ke hilir sana.

Dan cerita itu terurai dengan deras dari mulutnya. Kisah yang seketika membuat kudukku meremang, tengkukku dingin, dan lutut gemetar. Alahai, betapa mataku membulat dan liur berkali-kali kudorong masuk ke dalam tenggorokkan. Aku.., aku tak kuasa mendengar ceritanya yang demikian menakutkan. Tapi, aku pun harus ingat dengan janjiku kepada lelaki itu: Menolongnya mencari seseorang yang bisa mengajarinya menangis setelah ia berkisah padaku. Dan susah payah kujinakkan lidah agar kisah ini terurai padamu, Kawan. Inilah cerita lelaki itu padaku.

Ia tak hendak disebut namanya, lantaran tak ingin mengorek luka di dadanya yang demikian dalam. Luka yang katanya telah berulat dan bernanah. Baiklah, kita tak usah risaukan masalah namanya itu. Biarkanlah saja, mungkin ia perlu sedikit privacy dan kita hargai itu. Nah, simaklah cerita tentang hidupnya yang kelam, hingga membuatnya tak bisa menangis.

Pada kisah pertamanya, lelaki itu mengaku telah membunuh ibu kandungnya. Oi, dapatlah kau tebak, Kawan, seketika aku tersurut saat ia mengungkap itu. Alangkah gila yang ia ceritakan? Ia membunuh ibu kandungnya lantaran berebut harta pusaka warisan bapaknya. Tersebab, lelaki itu merasa ibunya tak adil membagi semua harta. Mengapa adik-adik perempuanku harus dapat bagian? Bukankah semua itu hakku sebagai anak laki-laki bapak. Itulah yang membuat ia tega membunuh ibunya. Semua itu membuatnya terlempar ke dalam penjara yang pengap. Terbuang dari kampung halaman, dicerai oleh bininya, bahkan tak diakui oleh anak-anaknya.

Dalam penjara itulah, lelaki itu berkawan dengan penjahat. Segala rupa ada. Pembunuh. Perampok. Pemerkosa. Pengedar obat haram. Bahkan orang-orang sekelas pemaling ayam. Semua ada. Dan ia seolah menemukan dunia yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Usai terkurung dalam penjara pengap bertahun-tahun lamanya, lelaki itu bebas, tersebab hakim hanya menjatuhinya hukuman dengan kurun waktu tertentu saja, lantaran ia terbukti tak membunuh dengan rencana.

Selepas itu, dicarinyalah kawan-kawan penjahatnya. Dan dimulailah kisah keduanya. Ia menjadi begundal di dunia hitam. Merampok. Memperkosa. Bergelut dengan pelacur. Mabuk. Judi. Dan segala hal yang terasa begitu bersahabat dengan dirinya. Hingga ia keluar masuk penjara, sampai-sampai lelaki itu pun lupa telah berapa kali ia terdampar di sel-sel pengap itu.

Oi, Kawan. Seketika aku tak dapat berkata-kata. Alangkah mengerikan jalan hidup lelaki yang ingin menangis ini. Membunuh ibu kandungnya. Ah, tak dapat itu kunalar dengan akal. Dalam benakku yang terdalam, tak pernah terlintas cerita demikian rupa. Kupikir, sebuas apapun binatang di rimba dunia ini, tak akan mampu ia membunuh ibunya. Nyatanya, itu salah. Lelaki yang ingin menangis itu telah melakukannya. Bahkan kisah hidupnya yang bergelut dengan dosa; merampok, memperkosa, mabuk, melacur, berjudi, dan hingar bingarnya saja telah membuat kepalaku pusing alang.

Lalu, mengapa lelaki itu tiba-tiba ingin menangis? Itu pulalah yang terus menggelitik isi kepalaku sepanjang lelaki itu berkisah di atas jembatan petang itu. Seolah paham dengan apa yang bersarang dalam batok kepalaku, lelaki itu menguraikan cerita tentang keinginannya menangis.

Ketika aku masuk penjara yang kesekian kalinya, aku satu sel dengan seorang lelaki yang rajin sembahyang. Dari raut mukanya, kuterka ia terlempar dalam bilik jeruji itu karena sebuah kesalahan. Tak dapat kubayangkan, lelaki serupa itu seorang begundal macam diriku. Nyatanya, aku sedikit benar. Lelaki itu seorang alim di kampungnya. Entahlah, ia tak hendak berkisah tentang musabab dirinya ada di penjara. Dan aku bukanlah seseorang yang suka mendengarkan orang berkisah.

Dari kawan penjaranya yang rajin sembahyang itulah, lelaki yang ingin menangis menemukan sesuatu yang beda dalam hidupnya. Mulanya, ia sangat muak ketika lelaki itu selalu saja mengoceh tentang hakikat manusia ada di dunia fana. Tentang Tuhan. Neraka. Surga. Dan segala tetek bengek yang membuat kepala lelaki itu pening bukan buatan. Bahkan, ia pernah meninju muka lelaki itu lantaran tak tahan mendengar ceritanya yang membosankan.

Namun, lamat-lamat lelaki itu mulai terbiasa dengan ocehan kawannya itu. Ia menyerah untuk membungkam mulut kawannya itu, tersebab lelaki yang jadi karib satu selnya itu terus saja berkicau walau telah berkali ia pukul wajahnya. Entahlah, mendadak saja –ketika kawan satu selnya itu berkisah tentang kiamat, lelaki itu teringat dengan guru mengajinya di langgar dulu. Surau kampung yang kecil, tempat bocah-bocah ingusan mengeja alif ba ta. Seketika, sebuah kerinduan tumbuh di ladang hatinya yang gersang. Rindu kampung halaman. Rindu dengan masa kanak-kanannya. Bahkan mendadak ia rindu kepada ibunya. Seseorang yang telah lama ia lupakan. Saat itu jugalah, sebuah rasa menggeliat demikian buas. Rasa menyesal. Rasa takut akan bayangan hitam di belakangnya. Rasa yang ia sendiri pun tak paham.

Lalu, pada malam yang demikian pekat. Lelaki yang ingin menangis itu berkisah pada kawannya. Tentang betapa kelam hidupnya. Betapa mengerikan tapak-tapak di belakang punggungnya.

Tentulah dapat ditebak. Kawan lelaki yang ingin menangis itu terkesiap. Bahkan tak dapat berkata barang sepatah ketika mendengar kisahnya. Siapapun pasti akan bersepakat, cerita kelam lelaki yang ingin menangis sangatlah hitam dan menakutkan.

Adakah jalan untuk menebus semuanya? Itulah tanya yang lelaki itu lontarkan pada kawannya. Dan tentu saja kawannya itu kebingungan. Berhari-hari kawannya itu berpikir, tetap saja ia tak menemukan cara untuknya. Hingga pada senja yang demikian indah bagi lelaki yang ingin menangis itu. Mendadak kawannya berujar, kata-kata itu terluncur usai kawannya dibezuk oleh serombongan orang berwajah teduh. Lelaki iu sempat melihat mereka sekilas pintas.

Menangislah dihadapan Allah, mohon ampun dalam sembahyangmu. Kata guruku, itulah yang dapat menolongmu.

Dan lelaki itu meminta kawannya mengajarinya menangis, karena ia sudah lupa cara menangis. Bahkan ia pun tak ingat kapan terakhir kali ia menangis. Sayangnya, sampai kawannya itu terbebas dari penjara, lelaki itu belum jua bisa menangis. Dan ketika ia pun bebas dari penjara, ia tetap belum bisa menangis. Bahkan ketika ia diam-diam menyelinap ke kampungnya, lalu mengedap-endap ke area pekuburan, mencari makam ibunya, dan memohon ampun pada sebuah kubur yang bertuliskan nama ibunya itu. Ia tetap saja tak bisa menangis.

Dosa-dosa itu yang membuat hatiku membatu. Dan aku tak bisa menangis. Aku harus mencari orang yang bisa membuat hatiku tak lagi membatu.

Kata-kata itu, ia dapatkan dari kawan penjaranya itu. Mulailah lelaki itu mengembara dari tanah ke tanah, dari air ke air, dari rimba ke rimba, hanya untuk mencari seseorang yang dapat mengajarinya menangis. Seseorang yang bisa membuat hatinya yang keras mencair.

Nah, begitulah kisah tentang lelaki yang ingin sekali dapat menangis itu, Kawan. Sampai detik ini, lelaki itu belum jua menemukan seseorang yang bisa mengajarinya menangis. Beberapa kali ia datang menyambangiku dan bertanya; apakah telah kau temukan orang yang dapat mengajariku menangis? Tolong, carikanlah. Aku takut masaku akan segera usai. Oi, aku dapat merasakan kecemasannya. Maka kuceritakan saja kisahnya ini kepadamu, kalau-kalau kau tahu seseorang yang dapat mengajari lelaki itu menangis. (*)

Copas dari: http://www.sabili.co.id/el-ka/lelaki-yang-ingin-menangis
Pernah diterbitkan di rubrik Cerpen edisi 2 tahun XIX