muhasabah

dibawah langit

Assalamu'alaikum

Label

Selasa, 03 Januari 2012

Wahai Insan Bercerminlah




Sudahkah kita bercermin pada diri sendiri??
Lihatlah mulutmu, lihatlah hatimu
Sudah baikkah dia???
Benarkah tidak ada penyakit yang tersimpan didalamnya??

Wahai mulut…
Apa gerangan yang sering engkau ucapkan??
Apakah aku selama ini tlah tertipu??
Adakah hati-hati yang engkau remuk dengan kata-katamu yang mengiris tajam??
Adakah kata-katamu yang semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang??
Benarkah engkau menyebut nama Allah dengan tulus??
Benarkah engkau merasa syahdu memohon agar Allah mengampunimu??

Wahai hati…
Apakah engkau shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan??
Khusyu’kah sholatmu? Dzikirmu? Doa-doamu??
Ikhlaskah engkau melakukan semua itu??
Jujurlah wahai tubuh yang malang….
Ataukah engkau menjadi makhluk riya tukang pamer??
Atau engkau merasa punya kelebihan daripada orang lain??

Apakah yang engkau pamerkan??
Apakah yang engkau sombongkan??
Hartakah??
Apa yang akan engkau banggakan dari hartamu??
Apakah engkau berpikir bahwa harta yang engkau peroleh hanya karena hasil usahamu sendiri?
Seperti yang diucapkan Qarun "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku" (Al-Qashash 28 : 78)
Ingatlah… jika Allah berkehendak, hartamu akan binasa seketika…
Bukankah kita sudah mengetahui “bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta (QS 28 : 78)

Nasabkah yang engkau banggakan??
Apa yang akan engkau banggakan dari nasabmu??
Berdarah birukah?? Orang terkenalkah??
Tak ada gunanya hal tersebut dimata Allah
Yang membedakan kita hanyalah taqwa
Dan kelak dihari kiamat tiada berguna nasabmu itu
Karna “ Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (Al-Mukminun : 101)

Ohhh… mungkinkah kekuasaan yang engkau banggakan??
Apalah artinya kekuasaan,
Jika roh berpisah dengan ragamu,
kekuasaan takkan dibawa hingga keliang kubur.
Atau… engkau bangga karna engkau merasa cantik / gagah??
Ingatlah, seiring berjalannya waktu
Kecantikan atau kegagahanmu akan sirna juga
Dan ingatlah “apa saja yang diberikan kepada kamu (kekayaan, jabatan, keturunan dsb), maka itu adalah keni'matan hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? “(Al-Qashash 28 : 60)


Hmmm…ternyata bukan hanya itu ??
Amal ibadahkah yang engkau banggakan sekarang??
Apa yang akan engkau banggakan??
Merasa dekat dengan Allah kah??
Merasa bahwa Allah tlah menuliskan namamu di syurga sana??
Apakah engkau merasa sempurna amal ibadahmu dibandingkan orang lain??
Engkau merasa tlah menegakkan amar makruf nahi mungkar?
Engkau merasa dirimu pantas dihormati dan menjadi panutan?
Engkau merasa hanya nasehatmu saja yang pantas didengar?
Apakah engkau merasa derajatmu lebih tinggi dibandingkan orang lain??
Duhai hati yang merasa bangga karna amal ibadah…
Pernahkah engkau berpikir bahwa amal ibadahmu akan lenyap karna sifatmu itu…
Ridhokah Allah dengan sikap dan sifatmu yang membanggakan amal ibadahmu dan merasa lebih baik daripada orang lain??
Tak terpikirkah olehmu betapa murkaNya Allah karnanya??
Ingatlah…"Janganlah engkau semua melagak-lagakkan dirimu sebagai orang suci. Allah lebih mengetahui siapa yang sebenarnya bertaqwa." (an-Najm: 32)

Jangan-jangan… ilmu pengetahuan yang engkau miliki pun engkau banggakan sekarang??
Merasa pintarkah engkau sehingga yang lain engkau anggap bodoh?
Merasa ilmumu luas dan dalamkah sehingga engkau merasa harus menjadi rujukan?
Apakah engkau merasa hanya engkaulah yang pantas menasehati orang lain,
sedangkan orang lain yang ilmunya dibawahmu tak pantas menasehatimu?
Merasa bahwa engkau murid dari seorang guru / kiyai terkenalkah sehingga engkau tak ingin mendengar nasehat selain dari guru/ kiyaimu, apalagi nasehat dari mereka yang awam daripadamu?
Oohhh… betapa naifnya dirimu yang menganggap seperti itu…
Ingatlah, ilmu yang engkau dapatkan hanyalah setetes ilmu dari lautan ilmu milikNya
Dan ingatlah diatas langit masih ada langit
Untuk apa engkau banggakan ilmumu yang hanya akan merusak amal ibadahmu
Karna yang Allah nilai hanyalah keikhlasanmu dalam menuntut ilmu dan memberinya kepada yang lain
Maka tanamkanlah ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk
Semakin banyak tahu maka semakin tawadhu
Pernahkah engkau berpikir bahwa siapa tau orang yang menasehatimu walau sedikit ilmunya namun dimata Allah ia adalah hamba yang sangat dicintaiNya,
Karna ilmunya yang sedikit dapat membuat hatinya bersih dan beribadah dengan baik kepada Allah Dibandingkan dirimu yang banyak ilmunya namun telah tertanam kesombongan dalam hatimu itu
Dan ingatlah…Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)

Sudahkah engkau menyadari kesalahanmu??
Atau mungkin engkau tak menyadari dirimu berpenyakit??
Cobalah tanya kepada sahabatmu atau orang yang kenal dengan dirimu
Biarkan mereka mengomentari tentang sifat dan sikapmu
Mungkin dia bisa melihat mulutmu berpenyakit atau hatimu yang berpenyakit
Carilah sahabat yang benar-benar sahabat
Karna sahabat yang baik adalah sahabat yang dapat memberi nasehat
Yang dapat memberitahukan keburukanmu bukan yang membenarkan kata-katamu

Owh, lihat…ternyata ada temanmu yang mengatakan engkau sombong
Apa yang akan engkau perbuat??
Engkau musyawarahkan apa kesalahan yang ada padamu dengannya??
Engkau menyadari dan bertobat karnanya??
Subhanallah, Alhamdulillah… engkau tlah diberikan hidayah oleh Allah.
Ohhh tidakkkk….apa yang sebenarnya terjadi??
Ternyata engkau marah dan kesal karenanya
Lihat apa yang engkau lakukan sekarang…
Tanpa musyawarah dan muhasabah tentang kebenarannya,
Engkau mencari alasan untuk membenarkan perkataan dan perbuatanmu
Bahkan engkau tlah menghina mereka karna engkau menganggap dirimu benar
Sungguh celakalah dirimu, hatimu benar-benar tlah tertutup dan engkau tlah tersesat dari kebenaran,
Tiada lagi gunanya semua nikmat yang engkau miliki, amalmu yang banyak dan ilmu agamamu yang luas tersebut
Karna “tidak akan masuk surga seseorang yang didalam hatinya ada rasa sombong, meski hanya seberat biji sawi” (HR.Muslim)

Duhai diri yang tlah lengah
Bertaubatlah… bersihkan mulutmu
Jadikanlah mulutmu yang slalu berdzikir kepada Allah
Jadikanlah mulutmu yang memberi manfaat,
Yang membuat orang lain tidak berputus asa dengan rahmat Allah
Dan tidak menjerumuskannya kedalam kedurhakaan kepada Allah.
Betapa banyak orang-orang yang terjerumus kedalam neraka karena mulut dan hatinya
Pernahkah engkau berpikir mungkin namamu sudah tercatat dalam nama penghuni neraka?
Ingatlah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya ada seorang hamba yang mengucapkan suatu kalimat dengan tanpa memikirkannya (terlebih dahulu), yang dengan sebab itu ia tergelincir ke dalam neraka yang kedalamannya lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhori Muslim)


Wahai insan yang lalai…
Bertaubatlah… Bersihkanlah hatimu, jadilah orang yang bertawadhu
Janganlah engkau meremehkan siapa pun
Karna “cukup menjadi kejahatan seseorang jika dia meremehkan saudaranya seislam” (HR. Muslim)
Dan janganlah engkau mengharapkan kehormatan dari siapapun
Karna “ barangsiapa senang jika orang-orang berdiri menghormatinya, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR Ahmad)
Buanglah semua sifat buruk yang bersarang dihatimu
Karna kita “hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena menjalankan agama” (Al-Bayyinah: 5)

(My Diary_Muhasabah Untukku & untukmu_Wahai insan bercerminlah)

Ya Allah, aku memohon kepadaMu ketegaran dalam menghadapi segala permasalahan. Aku memohon dengan sangat kepadaMu untuk memberikan curahan petunjuk serta aku memohon kepadaMu dapat mensyukuri nikmat dan rajin melakukan ibadah. Aku memohon kepadaMu lisan yang jujur dan hati yang lurus. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang Engkau ketahui serta aku memohon kebaikan yang Engkau ketahui. Serta aku memohon kepadaMu curahan ampunan dari segala dosa yang Engkau ketahui sebab hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib (HR Imam Tirmidzi)
 

Adakah Berhala Dalam Hati Kita??



Pernahkah kita merenungi bahwa dalam hati kita mungkin terdapat berhala yang dapat merusak amal ibadah kita? Memang banyak diantara kita yang tidak menyadari kalau didalam dirinya sudah terdapat berhala yang tumbuh dan menghancurkan bagunan amal yang telah dibuat dengan susah payah. Taukah engkau sifat dan sikap apakah yang dapat membangun berhala pada hati kita? Yaitu sifat ujub dan sombong.

Sifat ujub dan sombong bisa menghinggapi siapa saja, baik orang kaya, pelajar, orang pintar dan juga pada setiap nikmat Allah yang diberikan pada hambaNya terkadang juga bisa menimbulkan sifat ujub dan sombong.

Ujub adalah sikap yang menganggap diri hebat karena kelebihan yang ada pada diri. Bahkan ia membayangkan bahwa akibat dari kebaikan perbuatannya maka ia telah mencapai hak-hak tertentu atas Allah. Sifat ujub ini merupakan bagian dari kesombongan yang belum dinampakkan (masih dalam hatinya). Sedangkan sombong (takabur) adalah sikap yang membanggakan diri , menganggap diri lebih dari orang lain yang dinampakkan lewat ucapan, sikap dan tingkah laku.

Tanda-tanda kesombongan terkadang dapat dilihat dari caranya berbicara, berjalan, terkadang ia mengharapkan sekelompok orang meniru dirinya , menganggap dirinya lebih baik / tinggi dari orang lain, sehingga dalam berintegrasi dengan orang lain disertai dengan penghinaan dan celaan, menolak kebenaran ketika orang lain memberitahukan kesalahannya, memaksa kehendaknya, pantang diremehkan, sukar menerima nasehat dan suka sanjungan dari orang lain.

Hal-hal yang dapat menyebabkan orang sombong yaitu:
1. Kekuasaan.
Jabatan yang kita miliki, bisa mengantarkan kita untuk berbuat sombong, melecehkan orang-orang biasa yang tidak punya jabatan apa-apa. Janganlah kita berlaku sombong karna kekuasaan, sebab kekuasaan tidak akan kekal, ketika kita mati maka kekuasaan pun akan hilang.

2. Harta Kekayaan.
Kekayaan yang kita miliki juga rizki dari Allah. Harta kekayaan ini akan menjadi bencana, jika kita membeda-bedakan derajat seseorang berdasarkan harta kekayaan yang dimilikinya. Tidak mau menjadikannya teman kerena dia miskin, tidak mau menerima pinangan karena derajatnya lebih rendah daripada kita dll.

Jika Allah memberi kita rizki berupa harta yang melimpah, janganlah kita berlaku sombong, karna dunia seisinya adalah kenikmatan yang tak abadi. Ingatlah, ketika kita mati, kita tidak membawa apa-apa kecuali kain yang membungkus tubuh, tak ada sedikitpun berguna harta, hanyalah ketaqwaan yang akan menyelamatkan kita.

3. Nasab keturunan
Bagi orang yang sombong karena keturunan menganggap keturunannya lebih baik daripada yang lain, sehingga dia tidak mau berteman dan bergaul dengannya, serta mencela dan mencaci bila terjadi percecokan diantara mereka. Dengan mengatakan aku lebih tinggi daripada kamu, kedudukan orang tuaku lebih tinggi daripada orang tuamu dll. Bagi kita yang berasal dari keturunan yang mulia (orang tuanya ulama, pejabat, orang kaya, “darah biru”, orang terhormat, dan sejenisnya) berhati-hatilah, karena kita bisa terjebak menjadi sombong dengan sebab nasab keturunan.

Jika kita terlahir didalam keluarga yang bernasab mulia, janganlah kamu membanggakannya disekelilingmu, sebab nasab yang hakiki adalah taqwa. Kelak pada hari kiamat semua nasab itu terputus tiada guna, hanya amal salehlah yang berguna.

“ Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (Al-Mukminun : 101)

4. Penampilan, kecantikan maupun ketampanan.
Bentuk fisik kita merupakan anugerah Allah yang patut disyukuri, bagaimanapun adanya. Jika Allah menganugrahkan kepada kita wajah dan tubuh yang bagus, janganlah kita berlaku sombong terhadap pasangan atau orang-orang disekitar kita, sebab wajah dan tubuh itu ada masanya akan sirna.

5. Amal dan Ibadah
Imam Asy-Sya’abi dan Ayyub as-Sakhtiani rahimahumullah mengisahkan “ada seorang laki-laki yang terkenal dengan julukan ‘si tukang maksiat dari kalangan Bani Israel’. Suatu hari dia berjumpa dengan seorang laki-laki ‘si tukang ibadah’ yang diatas kepalanya terdapat awan yang menaunginya. Si tukang maksiat berkata pada dirinya, aku adalah orang yang banyak bermaksiat sedangkan dia adalah seorang ahli ibadah. Alangkah baiknya kalau aku duduk disampingnya. Barangkali saja aku akan mendapat imbas dari rahmat Allah yang dianugrahkan kepadanya. Lalu ia duduk disampingnya. Si tukang ibadah tersebut bicara kepada dirinya sendiri, aku adalah ahli ibadah sedangkan dia ahli maksiat. Aku tidak mau dia duduk didekatku!. Dengan sombong dia berkata kepada si ahli maksiat “ Pergilah kamu dari sini!. Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada nabi zaman itu yang isinya “suruhlah keduanya memulai beramal. Sesungguhnya Aku telah memaafkan tukang maksiat itu dan menghapus amal ibadah tukang ibadah tersebut. Dalam sebuah riwayat disebutkan, maka awan itu pun berpindah menaungi si tukang maksiat.

Janganlah kita menganggap diri kita sebagai orang yang paling dekat dengan Allah. Memandang diri kita sebagai orang yang lebih pantas untuk masuk surga dibandingkan dengan orang lain. Menganggap diri kita lebih sempurna amalnya dibandingkan yang lainnya. Sehingga, menganggap seharusnya kitalah orang yang pantas untuk dihormati, diminta nasihatnya, dipenuhi segala kebutuhannnya, atau didahulukan kepentingannya dibanding yang lainnya. Sehingga kita tidak mau untuk mendengarkan nasihat dari orang lain, walaupun berisi kebenaran, kita pun akhirnya menganggap orang lain, derajatnya berada dibawah.

6. Banyaknya pengikut, pendukung, murid, pembantu, keluarga, kerabat dan anak,
bisa juga mendatangkan penyakit sombong. Sehingga tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan dan melecehkannya, jika kebenaran tersebut datang dari orang yang sedikit pengikutnya. Dan janganlah kita merasa bangga dan sombong menjadi pengikut atau murid seseorang, misalnya menjadi murid dari syeh, kiyai, ulama atau habib tertentu. Sebab Allah takkan menanyakan hal tersebut di yaumul hisab nanti.


7. Ilmu Pengetahuan
Kita bisa menjadi sombong, justru karena ilmu yang dimiliki. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, kita menjadi merasa sebagai orang yang pintar, sedangkan yang lainnya adalah orang-orang bodoh. Menganggap memiliki ilmu yang luas dan dalam, sehingga semua orang seharusnya menghormati kita, semua orang seharusnya menjadikan kita sebagai rujukan. Merasa dirinya menjadi yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah. Hanya kitalah yang pantas untuk mengisi kajian-kajian, menjadi pembicara, sebagai narasumber. Orang lain hanya berhak untuk mendengarkan dan mengikutinya. Parahnya lagi, kita menjadi tidak mau untuk mendengarkan nasihat dari orang lain, walaupun nasihat itu benar adanya. Kita hanya mau menerima nasihat yang diberikan oleh orang yang dianggap memiliki ilmu pengetahuan yang lebih tinggi lagi. Kita merasa, bahwa hanya kitalah yang paling pantas untuk menyampaikan nasihat, sedangkan orang lain hanya pantas untuk mendengarkan nasihat kita. Akibatnya, kita benar-benar terjerumus, menjadi orang yang menolak kebenaran dan melecehkan orang lain, atau dikatakan sebagai orang yang terjangkit penyakit sombong.

Abu Hamid al-Ghazali berkata, Jika seorang hamba tidak menyibukkan dirinya pertama kali untuk membersihkan jiwa dan menyucikan hatinya dengan berbagai macam mujahadah, niscaya ia akan menjadi sosok yang busuk didalamnya. Jika ia mendapatkan ilmu, niscaya ilmu tersebut mendapatkan tempat yang busuk dalam hatinya dan tidak memberi buah yang baik. Bahkan pengaruhnya dalam kebaikan tidak tampak. Karena ilmu yang dihafal oleh manusia, akan ia ubah sesuai dengan kemauan dan kehendak hatinya, sehingga seorang yang takabur semakin takabur dan seorang tawadhu semakin tawadhu.

Mudah-mudahan, ilmu yang kita miliki tidak membawa kesombongan. Bahkan sebaliknya, semakin luas ilmu yang dimiliki, kita semakin sadar bahwa ilmu yang kita miliki masih sangat sedikit dan masih memerlukan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang lain. Apalagi jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sungguh tak ada apa-apanya.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (Asy-Syu’ara: 215)

Ketika seseorang yang memiliki kelebihan dan keberhasilan mendapati bahwa orang-orang disekelilingnya lebih rendah tingkatannya dari dirinya, maka hal ini tentu akan membuat penyakit sombong sedikit demi sedikit bersarang dihatinya. Mengapa tidak? Dia selalu mendapati bahwa pendapatnya adalah pendapat yang benar, pemikirannya adalah pemikiran yang tepat, dan menganggap semua pandangan dan pendengaran orang terarah kepada pendapatnya dalam berbagai kejadian. Jika ia ditanya tentang sesuatu dan membalas ucapannya, niscaya ia akan marah, dan jika ada yang mendebatnya, niscaya ia dengan keras akan membantahnya, jika diberikan nasehat, maka ia segan menerima nasehat tersebut dan bisa saja ia mengatakan “yang berhak menasehatiku adalah orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada diriku”. Jika ia mengajar, ia tidak bersikap lembut dengan orang yang belajar, bahkan tidak segan membentaknya, ia sering mengingat-ingat jasanya dan memanfaatkan orang yang ia ajarkan.

Wahai sahabat, ingatlah Allah dan RasulNya telah mengingatkan kita terhadap penyakit ujub dan sombong ini.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al-Hujurat: 11)

Tidak akan masuk surga seseorang yang didalam hatinya ada rasa sombong, meski hanya seberat biji sawi (HR.Muslim)

Cukup menjadi kejahatan seseorang jika dia meremehkan saudaranya seislam (HR. Muslim)

Barangsiapa senang jika orang-orang berdiri menghormatinya, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka (HR Ahmad)

Oleh karena itu sahabat, marilah kita merenung, apakah dihati kita terdapat berhala yang dapat merusal amal ibadah kita? Kenapa Allah tidak memasukkan kita kedalam surga karna sifat dan sikap ujub dan sombong ini? Yaitu karena ujub dan sombong adalah salah satu macam syirik khafi yang berbahaya (syirik yang terselubung).

Dr. Muhammad Said al-Buthi berkata “Syirik tidak terbatas pada makna luarnya yang tidak mendalam, yang tercerminkan dalam menyembah berhala dan yang selain Allah, atau tecerminkan dalam tindakan seseorang dari kita yang meminta kepada selain Allah. Tetapi, ia mempunyai makna tersembunyi yang menyelusup karena ketersembunyiannya kedalam hati dan jiwa kaum muslimin tanpa diketahui dan dirasakan. Itulah sumber bahayanya. Karena setiap kita melakukan amal saleh, ibadah, atau sesuatu semacam jihad, niscaya syirik yang tersembunyi (terselubung itu) menghancurkan pahalanya dan menghilangkan nilainya, serta mengubahnya dari ketaatan yang diterima menjadi kemaksiatan dan syirik.
Akhir kata sebelumnya saya (penulis/admin) meminta maaf kepada sahabat semua, jika selama ini dalam tulisan, perkataan saya dalam coment, atau segala tindakan saya terdapat sikap atau sifat yang mengandung unsur kesombongan, saya minta maaf karna sungguh tak ada terbesit sedikitpun untuk menyombongkan diri karna ilmu yang setetes dari lautan ilmu milik Allah ini. Ya Allah, ampunilah dosa dan khilaf hamba, baik yang tampak maupun yang tersembunyi dalam hati, tunjukilah hamba jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi. Aamiin ya rabbal'alamiin....

Senin, 05 Desember 2011

BILA WAKTU ITU TIBA






Ketika selimut putih membungkus tubuh
Tangisan duka mengharu biru melepaskan kepergian
Sudah sanggupkah engkau menghadapi masa itu?

Seandainya jenazah yang sedang kita tangisi bisa berbicara
Menceritakan pengalaman sakaratul mautnya
Maka kita akan ketakutan dan menangisi diri sendiri

Tahukah dirimu seberapa dahsyatnya saat sakaratul maut itu?
“Sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR. Tirmidzi)
“Rasa sakit yang dirasakan menghujam jiwa
Menyebar keseluruh anggota badan
Tubuh terasa ditarik-tarik dan dicabut
Dari setiap urat nadi dari akar rambut hingga kaki” (Imam ghozali)
Sungguh…takkan terbayang oleh kita betapa sakitnya siksaan itu..

Wahai sahabat…
Sudahkah kita mengingat malam pertama didalam kubur?
Apakah yang akan kita rasakan ketika malam pertama diletakkan didalam kubur?
Dimana tidak ada teman, sahabat, keluarga ataupun harta.
Adakah tempat untuk kita lari atau sembunyi?
Masihkah bisa kita meminta hidup kembali??

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku kedunia agar aku berbuat amal yang sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (Al-Mu’minun: 99-100)

Wahai diri yang lengah…
Bertaubatlah…
Berhentilah dari maksiat, jauhilah sifat dan sikap yang mengundang dosa…
Apabila jiwa telah berkumur dengan nafas sekarat didalam dada
Barulah engkau menyadari bahwa waktumu terbuang sia-sia selama ini

Wahai sahabat…
Apa yang telah kita siapkan untuk malam itu??
Sementara nabi bersabda
“Kubur itu taman diantara taman-taman yang ada disyurga
Atau lubang dari lubang-lubang yang ada dineraka” (HR. Tirmidzi)

Wahai diri yang lalai…
Ibumu telah melahirkanmu dalam keadaan menangis
Sementara orang-orang disekelilingmu tertawa penuh rasa bahagia
Maka beramallah untuk dirimu
Agar engkau menjadi orang yang tertawa penuh bahagia
Ketika mereka menangis saat kepergianmu

Maka beramallah untuk rumah esok
Agar kita ditempatkan ditempat yang terbaik
Yang malaikat Ridwan penjaganya
Muhammad tetangganya
Dan Allah yang membinanya…

(My Diary_Muhasabah untukku dan untukmu_Bila waktu itu tiba)
 

Detik Terakhir (Sakratul Maut)



Selama tahun ini, 3 orang yang kukenal dan kucintai meninggal dunia dalam waktu yang hampir berdekatan, istri paman (jum’at, 23 sep), bibiku (Sabtu, 19 Nov) dan kakek tercinta (Jum’at, 25 Nov). Cepat atau lambat kita semua pasti akan merasakan mati, dan ketika saat itu tiba sudah siapkah kita menghadapinya??.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”.(Al-Ankabut: 57).
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS An-Nisa 4:78).
"Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Allah, kamu akan dikembalikan”. (As-Sajdah:11).

Kematian pasti menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian."Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat. “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS, Al-Munafiqun, 63:11).

Allah sengaja menutup pengetahuan hambaNya dari mengetahui kapan datangnya kematian dirinya. Begitu juga dirahasiakan tentang tempat di mana ia akan menemui ajalnya dan dengan cara apa dicabut ruhnya. Allah Ta'ala berfirman "Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Luqman: 34).

Sebelum masuk gerbang kematian, kita akan mengalami fase bagaimana dahsyatnya sakaratul maut. Hari dimana ruh dikeluarkan dari jasadnya, sebagai hari yang telah ditentukan bagi setiap orang. Suka tidak suka dia pasti akan datang walaupun kita menghindarinya. Allah SWT berfirman: “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaaf: 19)

Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Sesungguhnya perbuatan hamba ditentukan pada akhir hayatnya. Dan kita tidak tahu di atas kondisi apa mengakhiri kehidupan kita, apakah husnul khatimah (akhir hayat yang baik) atau su'ul khatimah (akhir hayat yang buruk). Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya.” (HR. Bukhari).
Ada orang yang berpendapat bahwa orang yang meninggal ditempat yang kurang baik seperti dalam kamar kecil, kecelakaan dll menandakan dia meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Padahal keadaan demikian bukan menjadi satu bukti atau tanda su'ul khatimah karena hal itu hanyalah sebagai penyebab kematian. Kecuali jika saat dicabut ruhnya ia berada di atas kemaksiatan.

Terkadang nampak pada sebagian orang yang sedang sakaratul maut, tanda-tanda yang mengisyaratkan su’ul khatimah, seperti : menolak mengucapkan kalimat tauhid, justru mengucapkan kata-kata jelek dan haram, serta menampakkan kecendrungan padanya seperti tingkah yang aneh saat sakratul maut, dan lain sebagainya

Sakratul maut,,, banyak cerita yang pernah ku dengar mengenai sakratul maut seseorang , diantaranya seorang polisi yang berada ditempat kejadian dimana seorang pemuda yang meninggal karena kecelakaan sempat mendengar pemuda tersebut melantunkan ayat Al-Qur’an yaitu surat Yaasin sebelum pemuda tersebut menghembuskan nafas terakhir. Polisi tersebut merasa takjub dengan kejadian ini, ketika jenazah pemuda tersebut diantar kerumah duka kemudian polisi tersebut bertanya kepada masyarakat sekitar siapakah gerangan pemuda tersebut. Ternyata dia adalah seorang pemuda yang hafal Al-Qur’an, rajin beribadah dan seorang relawan yang selalu menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Subhanallah begitu indahnya detik2 terakhir yang dialaminya.

Dan juga ada sebuah cerita dari kakekku ketika beliau masih hidup, ada salah seorang warga dikampungku dulu, dia seorang yang rajin beribadah, namun lama kelamaan ia semakin jarang beribadah hingga melupakan semua kegiatan ibadahnya dan larut dalam kesibukan mengejar dunia. Ketika ia mengalami sakratul maut, salah seorang keluarganya berkata ‘pak, ngucaplah pak… tapi yang keluar dari mulutnya kata “cap…cap..caaap…”, kemudian keluarganya membimbingnya untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah, namun yang terus keluar dari mulutnya kata cap…cap…caaap…hingga akhirnya dia meninggal. Dan ada juga cerita seorang pemuda yang meninggal dunia, sebelum nafas terakhirnya, keluarganya mentalqinkan kalimat Laa ilaha illallah ditelinganya, namun yang keluar dari mulutnya yaitu nyanyian peter band. Bahkan ada yang sakratul mautnya seseorang selama 3 hari, orang tersebut merasa kesakitan, susah bernafas seperti orang tercekik, ketika sang ustadz mendengar kabar mengenai salah seorang warga didekatnya, dia menyarankan agar membaca surat yasin setiap saat didekat orang tersebut dan meminta agar keluarganya mendoakan agar dipermudah sakratul mautnya, barulah rasa kesakitannya sedikit berkurang… Naudzubillah min dzalik…Laa haula wala quwwata illa billah.

Sakratul maut orang dzalim

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.

Dan malaikat berkata ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzubillah min dzalik..

Beberapa hal yang menyebabkan su’ul khotimah yaitu
• Berbuat syirik kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada hakikatnya syirik adalah ketergantungan hati kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta, rasa takut, pengharapan, do’a dan lain-lain.

• Berbuat bid’ah dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan hal baru yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut bid’ah tidak akan mendapat taufik untuk memperoleh husnul khatimah, terutama penganut bid’ah yang sudah mendapatkan peringatan dan nasehat atas kebid’ahannya. Semoga Allah memelihara diri kita dari kehinaan itu.

• Terus menerus berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele perbuatan-perbuatan maksiat tersebut, terutama dosa-dosa besar. Ibnu Katsir berkata: Dosa-dosa, kemaksiatan, dan syahwat akan mengecewakan pelakunya pada saat kematian datang menjemput bersamaan dengan berkhianatnya setan terhadap hamba, maka telah terkumpul padanya dua kekecewaan di tambah dengan keimanan yang lemah, sehingga dirinya terjebak ke dalam su’ul khatimah

• Lalai terhadap Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah. Allah berfirman yang artinya,“Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raaf : 99)

• Berbuat zalim. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang paling layak meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al An’am : 44)

• Bersikap ujub. Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang yang merasa bangga dengan amal perbuatannya sendiri serta menganggap rendah perbuatan orang lain, bahkan bersikap sombong di hadapan mereka. Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang shalih sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan menjerumuskan mereka ke dalam su’ul khotimah.

Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS, An-Nahl: 30-32)

Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.
Jadikanlah sakratul maut seseorang sebagai pembelajaran bagi kita, sudah siapkah kita mengadapinya?? Amalan apakah yang banyak kita bawa saat sakaratul maut nanti??

Ibnu Qudamah rahimhullah berkata: Apabila engkau telah mengetahui makna su’ul khatimah maka wasapadalah terhadap sebab-sebabnya, persiapakanlah perbuatan-perbuatan yang baik bagimu, janganlah menunda-nunda persiapan sebab usia ini sangat pendek, dan jadikanlah setiap hembusan nafasmu sebagai akhir dari hayatmu, sebab bisa jadi ruhmu tercabut pada saat itu, dan manusia akan mati dengan keadaan sama dengan hidupanya dan akan dibangkitkan dengan keadaan yang sama dengan kematiannya.

Maka hendakalah seorang hamba tetap komitmen dalam ketaatan dan taqwa, dan menjauhkan dirinya dari apa yang diharamkan oleh Allah, bersegera taubat dari segala kemaksiatan, dan hendaklah dia memelas dalam bero’a agar diberikan husnu khatimah, berperasangka baiklah terhadap Allah. Dari Abdullah bin Amru ra bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda: Sesungguhnya seluruh hati anak Adam di dua jari dari jari-jari Allah Azza Wa Jalla seperti satu hati di mana Dia berbuat padanya sekehendakNya”. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Ya Allah yang Maha Kuasa memalingkan seluruh hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepadaMu”.

ALLAAHUMMA INNAA NAS-ALUKA SALAAMATAN FID DIINI, WA’AAFIATAN FIL JASADI WA ZIYAADATAN FIL ‘ILMI, WABARAKATAN FIR RIZQI WA TAUBATAN QABLAL MAUTI, WA RAHMATAN ‘INDALMAUTI, WA MAGHFIRATAN BA’DAL MAUTI. ALLAAHUMMA HAWWIN’ALAINAA FII SAKARAATIL MAUTI, WAN NAJAATA MINAN NAARI WAL’AFWA’INDAL HISAABI. RABBANAA LAA TUZIGH QULUUBANAA BA’DA IDZ HADAITANAA, WA HAB LANAA MIN LADUNKA RAHMATAN, INNA KA ANTAL WAHHAABU. RABBANAA AATINAA FID DUNYAA HASANATAN WA FIL AAKHIRATI HASANATAN WA QINAA ‘ADZAABAN NAARI. WA SHALLALLAAHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA AALIHI WASHAHBIHI AJMA’IINA, SUBHAANA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ’AMMAA YASHIFUUNA WA SALAAMUN ‘ALAL MURSALIINA WAL HAMDU LILLLAAHI RABBIL ‘AALAMIINA.

( Wahai Tuhanku, sesungguhnya kami memohon kepadaMu keselamatan didalam beragama, kesehatan jasmani, bertambah ilmu, berkah rizqi, bisa bertaubat sebelum mati, mendapat rahmat ketika mati, mendapat ampunan sesudah mati. Wahai Tuhanku, mudahkanlah kami didalam sakaratul maut, lepaskanlah dari api neraka, dan mendapat ampunan ketika dihisab. Wahai Tuhan kami, jangan Engkau goyahkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan berilah kami rahmat dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Memberi. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan akhirat nanti dan selamatkan kami dari siksa api neraka. Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga dan sahabat beliau semuanya. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan yang memiliki kebesaran/kesucian dari segala sifat rendah yang mereka (orang kafir) sifatkan, dan semoga keselamatan tetap kepada para Rasul, serta segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.). Aamiin Ya Rabbal’alaamiin…

Jumat, 25 November 2011

~#~ The Power Of Airmata ~#~




Sebagian kita menganggap tagisan adalah suatu hal yang menandakan orang tersebut lemah, cengeng dll, padahal tidak semua tangisan tersebut remeh. Tangisan merupakan rahmat yang Allah ciptakan didalam hati hambaNya.

Menurut Ibnu Qayyim mengatakan tangisan itu ada bermacam-macam yaitu:
1. Tangisan kasih sayang
2. Tangisan takut dan khawatir
3. Tangisan rindu dan cinta
4. Tangisan kegembiraan dan suka cita
5. Tangisan merintih karena kesakitan dan tak kuat menahannya
6. Tangisan kesedihan
7. Tangisan karena merasa tak berdaya dan lemah
8. Tangisan kemunafikan(matanya menangis sedangkan hatinya keras)
9. Tangisan kepalsuan atau karena imbalan
10. Tangisan tak disengaja yaitu ikut menangis melihat orang lain menangis padahal ia tidak tau apa yang ditangisi orang tersebut.

Allah tidak pernah keliru dalam menciptakan sesuatu. Dari tetesan-tetesan air mata terkandung berjuta makna yang menyiratkan kasih sayang dan kemahahalusan ilmu Allah. Setidaknya ada 2 fungsi penting bagi manusia yaitu

1. Untuk melindungi dan menjaga kesehatan mata.
Apa jadinya kalau mata tidak mengeluarkan air? Pasti tersiksa, mata akan terasa perih, panas dan sakit serta benda-benda dari luarpun begitu mudah masuk.

2. Sebagai alat komunikasi serta pengekspresian emosi
Sebagai sarana mengekspresikan emosi, tetesan airmata mengkomunikasikan sejumput pesan dengan makna2 tertentu. Ia mengekspresikan suasana hati yang terdalam, entah sedih, gembira, takut atau sakit. Sehingga nilai airmata begitu istimewa, khusus serta berkesan. Bukankah hati hanya bisa disentuh oleh hati lagi? Maka jangan heran jika airmata bisa meluluhkan hati yang keras, serta menaklukkan sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan dengan pedang. Airmata pun bisa menjadi alat komunikasi yang sangat canggih antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Kebanyakan dari kita menganggap kaum Hawa dinilai wajar menangis sebaliknya anak lelaki ataupun pria, rasa hormat akan diberikan ketika mereka dapat menahan airmata. Bahkan atribut ketegaran sering diberikan kepada seorang wanita dikala ia bisa menahan linangan airmata. Kalau saja kita dapat memahami bahasa tangis, pandangan sepihak atau standar ganda yang selama ini membentuk persepsi kita akan lambat laun kita tanggalkan.

Rasanya mungkin aneh sewaktu kita mengatakan pada seseorang “ Ayo kawan, menangislah. Jangan simpan tangismu kalau memang ada yang ingin kamu tangisi”. Mungkin kata tersebut jika kita ucapkan pada teman perempuan tidak aneh. Namun apakah pendapat seperti itu benar atau salah? Yang jelas kita mengatakan hal tersebut bukan lantaran ingin menunjukkan kelemahannya, atau biar kita bisa berbicara “Ternyata dia seorang yang cengeng” atau pendapat2 yang dapat melemahkan kaum lelaki, tentu saja tidak.

Airmata tidak saja milik kaum hawa saja namun juga untuk kaum adam. Air mata hanya bisa keluar dari kehalusan perasaan ketika bersentuhan dengan hal2 yang mengusik hati nurani. Tangis dan airmata tidak identik dengan wanita. Namun demikian, bukan berarti lelaki itu makhluk yang tidak punya perasaan, Cuma kadarnya saja yang berbeda. Lelaki yang gampang menangis juga bukan berarti banci.

Namun kebanyakan dari kita menganggap bahwa laki2 harus tahan dalam situasi apa pun, jangan sampai ada butir2 bening yang menetes dikedua pipinya, apalagi sampai dilihat orang lain. Kurang proposionalnya laki2 dalam memandang tangis dan airmata ini pada akhirnya menjadikan kaum lelaki bertambah miskin kehidupan emosionalnya. Sehingga sosok yang tampak adalah yang kaku, penuh dengan perhitungan2, matematis dan jauh dari sosok yang lembut hati.

Lelaki boleh menangis dan tetesan air matanya bukan sesuatu yang tabu untuk disaksikan, selama tangisannya bukan karena kecengengan, tetapi menunjukkan betapa halus dan lembutnya perasaan yang ia miliki.

Dalam sirah (biografi Nabi Muhammad) diriwayatkan bahwa beliau mencucurkan airmata saat mencium putranya Ibrahim ketika menghembuskan nafas terakhir. Melihat airmata nabi yang tak terbendung, Abdurrahman ibn Auf tercengang dan berkata “Engkau menangis wahai Rasul? Nabi menjawab “ini adalah rahmat Allah” lalu beliau bersabda “airmata berlinang, hati terkoyak2 kesedihan, namun kami tidak akan berkata kecuali yang diridhoi Allah. Wahai anakku Ibrahim, sungguh kami sedih atas perpisahan ini”.

Kehalusan dan kelembutan perasaan, sama sekali tidak akan mengurangi sosok pribadi yang tegar dan tegas, tetapi justru akan menjadikan ia sebagai sosk pribadi yang ideal untuk dijadikan teladan. Sebab kelembutan dan kehalusan perasaan akan menghasilkan sikap sabar, sedangkan ketegaran dan ketegasan akan menghasilkan sikap benar. Sementara sabar dan benar adalah 2 pilar yang harus dimiliki oleh laki2 yang ingin sukses menjalankan fungsi keqawamannya.

Memupuk sikap benar dengan menyampingkan sifat sabar, menyebabkan sayap keqawamannya tidak seimbang. Mengasuh kehalusan, kelembutan dan kepekaan rasa sebenarnya bukan hanya untuk kaum wanita sebab dalam batas proposional menjadi hal yang jg harus dimiliki oleh laki2. Misalnya dalam kewajibannya mendidik wanita yang menjadi istrinya, maka mau tidak mau dia harus menyelami kehidupan emosional dan karekteristik perasaan istrinya, sehingga dia akan mampu mengendalikan istrinya. Bila istrinya memiliki karekteristik yang rumit tentu saja semua membutuhkan kepekaan rasa.

Demikian juga tangis dan airmata, bukan hanya milik wanita, tapi juga milik laki2. Maka jangan simpan tangismu, bila ada sesuatu yang membuatmu ingin menangis maka menangislah. Menangislah jika tangisanmu dapat menenangkan hatimu, menangislah sebagai bentuk kehalusan dan kelembutan perasaanmu namun janganlah kamu berlebihan dalam tangisanmu (larut dalam tangisan dan kesedihan yang terlalu lama).

Sahabat… mari kita renungi bersama, apa yang menjadi air mata kita keluar. Apa hanya terbatas ketika sedih, kehilangan atau ketidakberdayaan karena jalan buntu? Masih tertinggalkah tetesan airmata saat mendengar perintah Allah atau mengenang perjuangan rasul2Nya?
Marilah kita melihat diri kita yang bergelimangan dengan noda dan dosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah, mata yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung sampai detik ini, sudah berapa kali airmata kita menetes karena takut pada Allah? Karena mengingat dosa2 dan kesalahan kita dan karena mengingat siksaNya.

Rasulullah bersabda : “tidak akan masuk neraka, seseorang yang menangis karena takut kepada Allah.”

Air mata bisa mendatangkan pertolongan Allah diakhirat kelak yaitu orang yang menangis dikeheningan malam ketika orang-orang terlelap tidur, ia menangis karena besarnya rasa takut dan harap kepada Allah.

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda:
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.(1)Pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabbnya, (3) Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul dan berpisah karena Allah pula, (5) Seorang lelaki yang di ajak zina oleh wanita yang kaya dan cantik tapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah dengan menyembuyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinfaqkan oleh tangan kanannya, serta (7) Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (Shohih Bukhari, Hadits no 620)

Airmatapun bisa mempercepat ijabah doa-doa, efek tetesannya mampu menembus batas2 dimensi. Karena itu Rasulullah mengingatkan “Takutlah engkau akan doa (termasuk airmata) orang-orang yang dizhalimi, sesungguhnya tiada jarak pemisah antara Allah dengan orang tersebut (HR. At-tirmidzi).


Rasulullah bersabda: “tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dua tetesan dan dua bekas. Yaitu tetesan airmata karena takut padaNya dan tetesan darah yang mengalir dijalanNya (Jihad) (HR, At-Tirmidzi).

Aku bertanya: wahai Rasulullah, bagaimanakah cara memperoleh keselamatan? Beliau menjawab Jagalah lisanmu, hendaklah engkau merasa betah dirumahmu untuk beribadah dan tangisilah dosamu (HR. Ibnu Mubarak).

(sumber dari buku The Power Of Airmata dan tambahan dari berbagai sumber).

Semoga Bermanfaat……